Sistem dan Mekanisme Kliring di Indonesia

Mata Pelajaran : Bank dan Lembaga Keuangan 2
Dosen : Dr. Prihantoro

Nama : Michael Alexander (24210380)

Kelas : SMAK-04

Kliring adalah istilah yang dikenal dalam dunia perbankan yang merupakan suatu cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat dagang dan surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya. Kliring juga menunjukan suatu aktivitas yang berjalan sejak terjadinya kesepakatan suatu transaksi

Berikut adalah contoh kasus dari kliring,

Nasabah A dan nasabah B merupakan pengguna jasa bank yang berbeda. Nasabah A menggunakan jasa Bank Siti, dan nasabah B menggunakan jasa Bank Karman. Berikut adalah contoh kasus yang akan menjelaskan mekanisme kliring yang terjadi diantara Bank Siti dan Bank Karman ketika Nasabah A dan Nasabah B bertransaksi.

Kasus 1

Kasus pertama dijabarkan sebagai berikut. Bank Siti memiliki Giro nasabah A. Kemudian, nasabah A membeli krupuk kepada nasabah B seharga Rp50.000.000,00 dan ia membayar menggunakan cek.  Kemudian, karena nasabah B bukan pengguna jasa Bank Siti, ia pergi ke Bank Karman untuk mencairkan ceknya. Di Bank Karman, nasabah B tidak dapat langsung mencairkan cek tersebut karena yang mengeluarkan cek tersebut adalah Bank Siti. Untuk itu, Bank Karman harus menghubungi Bank Siti menggunakan nota debit keluar, dan melalui perantara BI.

Sebagai perantara antara Bank Siti dan Bank Karman, BI memberikan syarat bahwa BI hanya akan menjadi perantara jika Bank Siti dan Bank Karman memiliki simpanan di BI, yang disebut rekening koran. Jumlah rekening koran ini harus berjumlah minimal 8% dari simpanan masyarakat.

Singkat cerita, Nasabah B kini dapat mencairkan cek yang ia dapat. Nama suratnya adalah nota debit keluar. Kini jumlah tabungan nasabah B telah bertambah dan jumlah tabungan nasabah A telah berkurang.

Berikut adalah catatan pembukuan di Bank Siti, Bank Karman, dan BI

Kasus 2

Di dalam kasus kedua ini, nasabah B meminta bank Karman untuk mengirim uang ke rekening nasabah A di Bank Siti sebesar Rp100.000.000,00. Menanggapi permintaan nasabah B, Bank Karman mengirimkan surat ke BI, yaitu nota kredit keluar sebesar 20 juta.  Sebagai perantara, BI lalu menyampaikannya lagi ke bank Siti dengan surat yang disebut nota kredit masuk. Akhirnya, uang Rp100.000.000,00 kini ada di rekening nasabah A.

Berikut adalah catatan pembukuan di Bank Siti, Bank Karman, dan BI

Sebagai tambahan, jika di dalam kasus 1 nasabah A tidak memiliki dana yang cukup, maka kliring akan ditolak. Ketika kliring ditolak, BI yang memiliki laporan terjadinya setiap transaksi dapat memasukan nasabah A kedalam blacklist.

Jenis-jenis surat (Kliring)

Jika hasil (+), berarti peserta memenangkan kliring

Jika hasil (-), berarti peserta kalah kalah kliring

Peserta yang memenangkan kliring akan menambah simpanan R/K pada BI, sebaliknya jika kalah simpanan R/K di BI akan berkurang.

Contoh 1

Bank Siti menyimpan deposito sebesar Rp100.000.000,00 dan menyimpan di R/K BI sebesar Rp8.000.000,00 atau 8%. Jika Bank Siti kalah kliring sebesar Rp2.000.000,00, dana Siti akan berkurang menjadi Rp6.000.000,00. Dengan demikian, Bank Siti harus mencari kekurangannya sebesar Rp2.000.000,00 karena jumlah minimum R/K adalah 8%. Kekurangan tersebut dapat dicari dengan call money (pinjam ke bank peserta kliring lain). Call money sendiri adalah pinjaman yang bunganya dihitung setiap malam atau hari (p.n. = per-night)

Contoh 2

Bank Karman menyimpan deposito sebesar Rp100.000.000,00 dan menyimpan di R/K BI sebesar Rp10.000.000,00 atau 10%. Dengan demikian, jumlah simpanan minimum atau 8% yang disimpan oleh Bank Karman disebut RR (Reserve requirement) dan 2%nya disebut ER (Excess Reserves). Seandainya bank karman kalah kliring Rp2.000.000,00. Bank Karman tidak perlu melakukan call money karena jumlah minimum simpanan 8% masih terpenuhi.

Kasus 3

Di dalam kasus ke-3 ini, kita akan belajar tentang proses kliring antar wilayah, dan menggunakan RAK (rekening antar kantor)

Atun adalah pengguna jasa bank BRI di Jakarta. Ia ingin mentransfer sejumlah uang untuk Joko yang berada di Mapi, dan menggunakan jasa Bank BPR Papua. Berikut adalah proses atau mekanisme kliring yang terjadi. Seperti yang terlihat di gambar tabungan awalnya didebet oleh bank BRI Jakarta. Kemudian, uang tersebut ditransfer ke BRI yang berada di Makasar. Kemudian, melalui proses kliring ke BPR Papua Makasar, dan akhirnya uang tersebut ditransfer ke BPR Papua di Mapi untuk dimasukan ke rekening Joko. Sebagai catatan, uang tersebut harus ditransfer dahulu ke BRI cabang Makasar karena di Makasar terdapat Bank BPR Papua. Intinya, bank harus mencari bank tujuannya yang berada di daerah yang sama agar proses kliring dapat berjalan.

Kasus 4

Di dalam kasus keempat ini, akan dibahas tentang kliring antar daerah. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Atun adalah pengguna jasa Bank Niaga Jakarta, sedangkan Joko tetap merupakan pengguna BPD Papua di Mapi. Sayangnya, di Indonesia tidak ada satupun lokasi yang didalamnya terdapat kedua bank ini. Oleh sebab itu, proses transfer harus menggunakan perantara lagi ketika Atun ingin mengirimkan uang kepada Joko.

Disini, kita bisa melihat bahwa mekanismenya hampir sama dengan kasus ketiga. Namun dapat dilihat, kali ini Bank Niaga Jakarta harus melewati proses kliring dahulu ke Bank BRI Jakarta. Kemudian, Bank BRI Jakarta mentransfernya ke Bank BRI Makasar. Sekali lagi, proses kliring dilakukan dan tujuannya adalah BPD Papua Makasar. Setelah itu, baru BPD Papua Makasar mentransfer uangnya ke BPD Papua Mapi, yang selanjutnya akan masuk ke giro atau tabungan Joko.

Kasus 5

Sejauh ini, kita telah mengetahui berbagai macam proses kliring. Sekarang, dalam kasus ke kelima kita akan mempelajari tentang kliring antar negara.

Seperti yang bisa kita lihat pada gambar diatas, Atun yang sedang berada di Arab ingin mengirimkan uang untuk Joko yang berada di Jakarta (Joko pengguna jasa Bank BNI). Untuk merealisasikan keinginannya, Atun dapat menggunakan dua cara. Apa sajakah itu?

Cara yang pertama adalah dengan menggunakan bank draft. Bank draft adalah surat berharga yang berisi perintah kepada bank lain untuk membayar sejumlah uang pada orang yang telah ditentukan pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Untuk itu, Atun harus memberikan uangnya ke pada Bank of Arab Saudi (Atun berada di Arab). Kemudian, Bank of arab Saudi akan memberikan Atun sebuah surat. Surat tersebut kemudian dikirimkan oleh Atun kepada Joko yang berada di Indonesia.  Kemudian setelah suratnya sampai, Joko membawa surat tersebut ke Bank BNI untuk menagih uang tersebut.

Cara yang kedua adalah dengan payment order. Awalnya, Atun membawa sejumlah uang ke Bank of Arab Saudi. Kemudian, Bank of Arab Saudi  memproses uang tersebut dan mengirimkan instruksi untuk melakukan pembayaran kepada Joko.

Saat ini, bank draft sudah sangat jarang digunakan. Selain itu, untuk memenuhi syarat kliring internasional, bank yang terlibat harus memilikan suatu hubungan baik (correspondent bank)

Data Flow Diagram

Di dalam bank, setiap nasabah memiliki nomor rekening yang berbeda, dan setiap kantor bank juga memiliki nomor. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah pengelompokan di neraca asset dan liabilities (deposit)

Berikut adalah contoh nomor rekening seseorang di bank. Nomor rekening bank tersebut terdiri dari 10 digit angka seperti dibawah ini.

x.xx.xxx.xxx.x

Keterangan

Seperti yang bisa kita lihat sama-sama diatas, masing-masing jumlah digit mewakili sesuatu. Sebagai  contoh, dalam kasus diatas, 1 digit awal mewakili jenis rekening yang dibuka nasabah. Selanjutnya, lima digit berikutnya mewakili lokasi kantor nasabah. Digit keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan mewakili nomor nasabah. Kemudian, digit terakhir digunakan untuk mengecek digit (unik) menggunakan metode modulus 11.

Proses Akhir Hari

Setelah mempelajari tata penomoran rekening nasabah, kita akan mempelajari prose dan cara menghitung bunga. Pada dasarnya, bank setiap hari melakukan proses akhir hari terhadap saldo rekening berdasarkan transaksi yang terjadi di hari tersebut. Berikut adalah formula yang digunakan untuk menghitung bunga dan saldo.

Saldo Akhir Bulan / Saldo Awal Bulan Berikutnya = Akhir Hari + Bunga

Selain rumus diatas, perhitungan bunga sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu

  1. Saldo terendah
  2. Saldo rata-rata
  3. Saldo harian

Masing-masing akan dijelaskan lebih detail melalui contoh kasus dibawah ini.

Kasus

Berikut adalah saldo tabungan milik Atun di Siti Bank

Saldo terendah

Untuk menghitung bunga dengan metode saldo terendah, kita harus mencari saldo terendah di bulan tersebut. Dalam kasus diatas, saldo terendah ada di tanggal 18.

Selanjutnya kita bisa menghitungnya dengan menggunakan rumus formula bunga diatas.

Saldo rata-rata

Untuk menghitung saldo rata-rata, kita harus mencari terlebih dahulu rata-rata dari saldo diatas, seperti berikut.

Saldo Harian

Seperti namanya, saldo harian dihitung detiap hari. Berikut adalah perhitungannya secara detail

Bunga Kredit

Selanjutnya, mari kita bahas tentang kredit. Kredit dibagi menjadi dua, yaitu annuitas, dan flat (fix rate). Agar kita lebih mengerti, marilah kita lihat contoh kasusnya sebagai berikut.

Contoh Flat (Fix Rate)

Atun meminjam uang sebesar 10 juta selama 3 tahun dengan bunga 10% per tahun. Dengan demikian, bunga yang harus dibayar adalah 30% x 10 juta = 3 juta

Kemudian, 3 juta dibagi 36 bulan, maka dalam setiap bulan Atun harus membayar bunga sebesar 500.000 rupiah. Dalam fix rate, jumlah yang harus dibayar Atun setiap bulan adalah tetap.

Contoh Anuitas

berikut adalah perhitungannya

Terakhir, untuk mendapatkan total bunga, silakan jumlahkan sendiri dari tanggal 13 hingga 31.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s