Motivational Blog, Music, and My Art

Archive for the ‘Teori Ekonomi’ Category

Analisis Pemberlakuan Tarif Gula di Indonesia

Nama Kelompok
1. Christian Ramos K. (21210578)
2. Michael Alexander (24210380)

Kelas : SMAK-04
Dosen : Dr. Prihantoro
Pelajaran : Teori Ekonomi 1

Latar Belakang

Sejak awal, pengembangan sektor pertanian dianggap strategis di Indonesia. Hal ini disebabkan karena wilayah daratan yang sangat luas dan ditunjang oleh struktur geografis yang beriklim tropis sangat cocok untuk pembudidayaan berbagai komoditi pertanian.

Salah satu hasil dari sektor pertanian subsektor perkebunan adalah gula. Kebutuhan akan konsumsi gula ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan semakin bertambahnya penduduk, pertumbuhan industri yang baru dan kenaikan kesejahteraan masyarakat.

Industri gula tidak bisa dipisahkan dari sektor perkebunan tebu karena bahan baku utama industri gula adalah tebu, meskipun belakangan ini dikembangkan pula industri gula dengan bahan baku gula mentah (raw sugar). Walaupun Indonesia memiliki banyak pabrik gula, namun kapasitas produksinya ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional yang mencapai 2.6 juta ton per tahunnya.

Ada beberapa alasan mengapa pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan hasil produksi gula lokal. Alasan pertama adalah karena gula merupakan komoditi penting yang dikonsumsi baik secara langsung oleh rumah tangga maupun secara tidak langsung oleh berbagai industri makanan maupun minuman. Kedua, produksi tebu sebagai bahan mentah dari industri gula merupakan sektor pertanian yang penting bagi para petani sebagai mata pencaharian dan sumber pendapatan. Ketiga, karena sebagian besar industri pengolahan gula dikelola atau dimiliki oleh pemerintah, industri ini salah satu sumber penghasilan pemerintah yang penting. Alasan yang terakhir, karena negara Indonesia pernah menjadi pengekspor gula sebelum nasionalisasi industri gula milik Belanda pada tahun 1957. Karena itu wajar bila Indonesia ingin paling tidak menjadi negara swasembada gula (Siregar, 1998)

Karena banyak industri gula nasional yang terancam gulung tikar akibat pembebasan tarif impor, Siswono Yudhohusodo selaku ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) beserta Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyarankan agar pemerintah mengenakan tarif impor pada gula sebesar 25%-110%. Pada akhirnya karena desakan berbagai pihak, pemerintah akhirnya mencabut tata niaga impor beras dan gula yang terealisasi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 717/MPP/Kep/1999 tertanggal 28 Desember 1999, tentang Pencabutan tata Niaga Impor Gula dan Beras.

Tujuan
menentukan penawaran dan permintaan terhadap gula
kemudian menghitung surplus produsen dan surplus konsumen karena penerapan tarif
impor terhadap gula dan akhirnya menghitung penerimaan pemerintah dari tarif.

Metode Penelitian
Penelitian ini meneliti tentang model permintaan dan penawaran gula dan
keseimbangan harga gula pada waktu dikenakan tarif impor. Variabel-variabel yang mempengaruhi penawaran antara lain adalah : produksi gula; harga produsen gula; harga
produsen barang substitusi, dalam hal ini beras; dan luas panen tebu. Sedangkan variabel
yang mempengaruhi permintaan adalah konsumsi gula per kapita; harga konsumsi gula;
harga konsumsi barang komplemen, dalam hal ini kopi; GDP per kapita, dan jumlah
penduduk. Karena data yang berjumlah besar, penelitian ini mengambil data selama 16
tahun mulai tahun 1983 sampai pada waktu dikenakan tarif impor gula yaitu tahun 1998.
Penjelasan variable dan sumber datanya dijabarkan di Table 1. Data yang digunakan
dapat dilihat di Widiastuty, 2000.

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yaitu analisa regresi
serta analisa surplus konsumen dan analisa surplus produsen. Analisa regresi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisa logaritma yang diturunkan dari fungsi
Cobb-Douglas sebagai berikut untuk fungsi permintaan (Llewelyn,1999:22):

Penawaran gula diasumsikan sama dengan produksi gula (Qst) ditambah impor gula (I), yaitu sebagai berikut :

Setelah analisa permintaan dan penawaran dilakukan, analisa surplus konsumen dan
analisa surplus produsen dapat dilakukan. Kurva permintaan dan kurva penawaran yang
ditentukan dari analisis regresi di atas digunakan untuk memperhitungkan jumlah surplus
konsumen dan surplus produsen sebelum ada kebijakan tariff dari pemerintah. Kemudian
harga dinaikkan 25% oleh karena pemberlakuan tariff dan surplus konsumen serta surplus
produsen diperhitungkan lagi.

Analisa dan Hasil

Dalam Tabel 2, tercantum deskripsi data variabel yang berpengaruh terhadap
permintaan dan produksi gula di Indonesia selama 16 tahun, dari tahun 1983-1998. Data
selengkapnya dilaporkan di Wdidastuty, 2000. Rata-rata, semua variabel cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, kecuali harga riil konsumen dan produsen untuk gula,
serta luas panen tebu dan produksi gula. GDP naik setiap tahun kecuali tahun 1998, di
mana GDP per capita mengalami penurunan sebesar 13% akibat krisis moneter.

Nilai riil untuk harga gula (konsumen dan produsen), GDP, harga beras dan harga
kopi digunakan daripada nilai nominal oleh karena nilai riil tidak mengandung unsur
inflasi dan menunjukkan perubahan harga dan GDP yang sebenarnya.

Untuk analisa regresi, terdapat tiga variabel yang mempengaruhi produksi gula
nasional dalam penelitian ini yaitu: harga produsen gula, harga produsen beras, dan luas
panen tebu. Hasil analisa yang tercantum di Tabel 3 menunjukkan bahwa fungsi
penawaran tidak elastis. Terlihat dari nilai P yang tidak signifikan untuk semua variabel
yang mempengaruhi penawaran. Penelitian sebelumnya oleh Isang Gonarsyah dan
Ernawati(1999) juga menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Di antara ketiga variabel
tersebut, luas panen tebu terlihat sebagai variabel yang paling mendekati signifikan (P =
0,11). Koefisien luas panen tebu sebesar 0.51 menunjukkan bahwa kenaikkan luas panen
sebesar 1 persen, ceteris paribus, mengakibatkan peningkatan produksi sebesar 0,5
persen. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan luas panen tebu tidak telalu
berpengaruh pada produksi gula karena produktivitas pabrik dan tebu yang rendah.
Dibandingkan dengan penelitian yang terdahulu oleh Isang Gonarsyah dan Ernawaty
(1999), yang menunjukkan koefisien sebesar 6,13, nilai elastisitas ini jauh lebih kecil.
Variabel luas panen tebu tidak elastis (0,51), menunjukkan bahwa petani akan tetap
menanam tebu dalam kondisi apapun dan tidak terlalu terpengaruh oleh harga gula yang
terjadi di pasar. Hal ini disebabkan oleh karena petani terikat oleh program TRI yang
mengharuskan petani untuk menepati kontrak yang berlaku, sehingga petani harus
menanam tebu walaupun harganya tidak menguntungkan bagi mereka.

Elastisitas harga produsen gula (0,21) yang tidak elastis menunjukkan bahwa pabrik
gula tetap melakukan kegiatan produksi berapapapun harga gula yang terjadi di pasar.
Produksi gula juga tidak terpengaruh oleh harga beras yang terjadi di pasar. Hal ini
ditunjukkan oleh koefisien harga produsen beras yang tidak elastis (0,25).

Hasil analisa regresi dari Tabel 4 menunjukkan bahwa di antara tiga variabel yang
mempengaruhi fungsi permintaan, hanya dua variabel yang paling berpengaruh yaitu
harga riil konsumen gula (P = 0,04) dan harga riil konsumen kopi (P = 0,04). Hasil
analisa menunjukkan bahwa GDP per kapita tidak elastis (0,12), menunjukkan bahwa
peningkatan GDP per kapita sebesar 1 persen, ceteris paribus, akan meningkatkan
konsumsi gula sebesar 0,12 persen. Koefisien ini lebih kecil apabila dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya oleh Isang Gonarsyah dan Ernawati (1999) sebesar 0,54. Hal ini
menunjukkan bahwa gula telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang
harus dipenuhi dan relatif rendahnya kebutuhan akan konsumsi gula.

Koefisien harga konsumen kopi 0,554, tidak elastis, menunjukan bahwa kenaikan
harga kopi sebesar 1 persen, ceteris paribus, akan menaikkan konsumsi gula sebesar 0,55
persen. Hal ini menunjukan bahwa harga kopi sebagai komplemen gula tidak
mempengaruhi konsumsi gula. Koefisien harga konsumen gula juga tidak elastis (-0,039), menandakan bahwa harga gula tidak banyak mempengaruhi konsumsi gula.
Hasil analisa regresi menunjukkan bahwa baik kurva penawaran maupun kurva
permintaan adalah tidak elastis sempurna. Karena itu, surplus konsumen dan surplus
produsen dianalisa dengan menggunakan kurva yang tegak lurus dengan tingkat tarif
sebesar 25%.

Pengaruh kebijakan tariff sebesar 25% terhadap surplus konsumen dan surplus
produsen digambarkan di Gambar 2. Pada tahun 1998, konsumsi gula per kapita di
Indonesia mencapai 16,39 kilogram per kapita. Jumlah penduduk Indonesia mencapai
201.537.838 orang. Sehingga konsumsi total (QL) pada tahun 1998 = 3.303.205,16 ton.
Menurut hasil penelitian Isang Gonarsyah dan Ernawati, impor mencapai 16,61 persen
total konsumsi. Jadi konsumsi tanpa impor (QS) mencapai 2.754.542,79 ton
(3.303.205,16* (1-0.1661)). Impor gula (QI) pada tahun 1998 mencapai 548.662,37 ton
(QL – QP). Harga konsumen gula sebelum tarif (P)mencapai Rp. 2.778.000 per ton.
Dengan tarif sebesar 25 persen, harga (PT)menjadi Rp. 3.472.500 per ton.

Karena kurva menjadi tidak elastis, kenaikan surplus produsen setelah tarif menjadi
sama dengan kerugian yang diderita oleh konsumen akibat tarif. Keuntungan produsen
dan pemerintah karena tarif adalah daerah PDBPT sebesar Rp. 2.294.075.983.620 (QL*(PT-P)). Sebagian dari keuntungan produsen dinikmati oleh pemerintah (daerah
ABCD) sebesar Rp. 381.046.015.965. Sedangkan sisanya (daerah PCAPT ) sebesar
Rp. 1.913.029.967.655 diterima oleh petani, produsen gula, importir dan lain-lain.

Sumber : http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/15607/15599
Penulis : Lily Koesuma Widiastuty (Alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen – Universitas Kristen Petra) dan Bambang Haryadi (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen – Universitas Kristen Petra)

Analisis

Gula yang merupakan salah satu bahan pokok di Indonesia, mengalami penurunan harga yang terus menerus di tahun 90an. Kemudian, pada awal tahun 1998, industri gula lokal berada di ambang kehancuran oleh karena nota komitmen (Letter of Intent/LoI) yang ditandatangani oleh pemerintah dan IMF pada tanggal 5 Januari 1998. maka dari itu harga gula yang lebih tinggi dari harga rata-rata menyebabkan menyebabkan perubahan surplus konsumen, surplus produsen dan pendapatan pemerintah.  Pada akhirnya, Tingkat tarif gula impor yang optimal tidak bisa ditentukan. Berapapun tarif yang ditetapkan, akan merugikan konsumen dan menguntungkan produsen. Jika pemerintah tetap ingin mempertahankan industri gula, pemerintah sebaiknya mengalokasikan lebih banyak dana ke dalam industri gula dan menentukan solusi yang tidak merugikan konsumen.

Pasar Gula di Indonesia

Dosen : Dr Prihantoro
Mata Pelajaran : Teori Ekonomi
Nama Kelompok : Michael Alexander (24210380) dan Christian Ramos K. ( 21210578)

Gula adalah salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan Indonesia sebagai komoditas khusus (special products), bersama beras, jagung dan kedelai. Di Indonesia, gula juga merupakan salah satu komoditi penting dan strategis bagi masyarakat. Pentingnya gula tidak hanya dirasakan bagi konsumen sebagai pengguna akhir namun juga bagi kalangan industri sebagai produsen yang mengolah komoditi gula menjadi produk dengan value added tersendiri.

Seperti yang telah diketahui, produksi gula di dalam negeri makin tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi, sehingga sejak awal 1990 impor gula  terus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu,  Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah untuk menjaga kestabilan harga gula. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah di akhir tahun 2009 dan di awal tahun 2010 adalah dengan melakukan impor gula. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya pemerintah ini sia-sia. Harga gula tetap saja tinggi bahkan terus meningkat. Anehnya lagi di saat musim giling tiba harga gula pun tidak tertekan untuk turun.

Impor gula tidak semata-mata dilakukan untuk menekan harga gula di saat tidak musim giling tetapi juga terutama untuk memenuhi kebutuhan gula nasional. Produksi gula domestik mengalami berbagai permasalahan terkait dengan produktivitasnya yang rendah serta belum tercapainya skala ekonomis dari setiap pabrik gula.

Berikut jenis-jenis gula yang dilihat dari keputihannya melalui standar ICUMSA (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis):

1. Raw Sugar

Raw Sugar adalah gula mentah berbentuk kristal berwarna kecoklatan dengan bahan baku dari tebu. Untuk mengasilkan raw sugar perlu dilakukan proses seperti berikut : Tebu -> Giling -> Nira ->Penguapan -> Kristal Merah (raw sugar). Raw Sugar ini memiliki nilai ICUMSA sekitar 600 – 1200 IU5. Gula tipe ini adalah produksi gula “setengah jadi” dari pabrik-pabrik penggilingan tebu yang tidak mempunyai unit pemutihan yang biasanya jenis gula inilah yang banyak diimpor untuk kemudian diolah menjadi gula kristal putih maupun gula rafinasi.

2.  Refined Sugar/Gula Rafinasi

Refined Sugar atau gula rafinasi merupakan hasil olahan lebih lanjut dari gula mentah atau raw sugar melalui proses Defikasi yang tidak dapat langsung dikonsumsi oleh manusia sebelum diproses lebih lanjut. Yang membedakan dalam proses produksi gula rafinasi dan gula kristal putih yaitu gula rafinasi menggunakan proses Carbonasi sedangkan gula kristal putih menggunakan proses sulfitasi.

3. Gula Kristal Putih

Gula kristal putih memiliki nilai ICUMSA antara 250-450 IU. Departemen Perindustrian mengelompokkan gula kristal putih ini menjadi tiga bagian yaitu Gula kristal putih 1 dengan nilai ICUMSA 250, Gula kristal putih 2 dengan nilai ICUMSA 250-350 dan Gula kristal putih 3 dengan nilai ICUMSA 350-4507. Semakin tinggi nilai ICUMSA maka semakin coklat warna dari gula tersebut serta rasanya pun yang semakin manis.

Berikut adalah contoh sampel permintaan dan penawaran gula di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

1. Jawa Timur

Supply dan Demand Gula

Jawa Timur adalah salah satu sentra produsen gula dengan jumlah total produksi 1.100.000 ton, sementara konsumsinya hanya 400.000 ton.

Perkembangan Harga

Selama rentang tahun 2008-2010 ini, harga gula terus mengalami kenaikan. Berikut adalah data harga gula eceran di berberapa pasar di daerah pedesaan Jawa Timur yang diperoleh dari BPS. Selama 2009 harga gula merangkak naik, bahkan pada tahun 2010 ini harga gula di pedesaan Jawa Timur sudah mencapai di harga Rp.10,000/kg.

2. Jawa Tengah

Jawa Tengah merupakan penghasil gula terbesar kedua di Pulau Jawa setelah Jawa Timur. Beberapa perkebungan gula serta pabrik gula berdiri di daerah ini.

Supply dan Demand Gula

Pasokan gula di Jawa Tengah diperoleh dari PTPN IX, PT RNI, PT IGN, Madu Baru, Kebon Agung dan PT Laju Perdana Indah. Produksi gula rata-rata dari PTPN IX, PT RNI dan Kebon Agung masing-masing melebihi 150,000 ton per tahunnya18. Sementara produksi gula yang dihasilkan oleh PT IGN, Madu Baru dan PT Laju Perdana Indah masingmasing dibawah 50,000 ton per tahun. Kebutuhan gula di Jawa tengah rata-rata sekitar 30,000 ton per bulan (±360,000 ton per tahun). Jika dilihat dari jumlah produksi gula dari pabrik gula di Jawa Tengah, maka kebutuhan gula di daerah tersebut akan terpenuhi seluruhnya. Namun untuk ketahanan pangan, maka impor gula kristal putih khususnya di saat tidak musim giling tetap diperlukan. Kuota impor untuk Jawa Tengah adalah 59,000 ton, namun itupun tidak seluruhnya terealisasi. Masih ada sekitar 10,000 ton yang tersisa sampai awal Mei 2010.

Kembali ke soal harga gula, kita bisa melihat bahwa di pasar global, khusunya Indonesia cenderung tinggi. Fenomena ini, salah satunya dapat dilihat saat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang terus direvisi setiap tahunnya, untuk melindungi petani gula. Maka, berikut beberapa faktor lain yang menyebabkan tingginya harga gula seperti berikut ini.

1. Pasokan berkurang

Di tahun 2009 produksi gula lokal mengalami penurunan, sedangkan jumlah konsumsi meningkat. Di waktu yang sama pun pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melarang impor gula kristal putih. Di tahun 2010 pun target produksi yang semula 2,7 juta ton sepertinya juga meleset hanya menjadi 2,3 juta ton.

2. Harga gula dunia tinggi, dan pernah mencapai $ 800/metrik ton. Sekilas memang sepertinya tidak ada korelasi antara harga lelang dengan harga gula dunia. Namun faktanya hal ini sangat berhubungan. Harga gula dunia sangat berpengaruh pada gula rafinasi. Gula rafinasi ini juga secara tidak langsung sangat mempengaruhi harga gula dalam negeri, karena gula rafinasi ini seringkali merembes ke pasaran gula konsumsi. Begitupun saat harga gula dunia tinggi yang membuat harga gula rafinasi tinggi, banyak industri yang beralih ke gula konsumsi, dan karena itulah harga gula konsumsi menjadi mahal.

3. Tidak akuratnya neraca gula yang dimiliki Pemerintah dimana ekspektasi

pemerintah terlalu optimistis dibandingkan dengan kenyataan di lapangan.
Beberapa Fakta di Lapangan Mengenai Naik dan Turunnya Harga Gula di Indonesia

1. Bulan Agustus 2011

Permintaan gula konsumsi sepanjang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri diperkirakan meningkat 50 ribu ton menjadi 270 ribu ton dibandingkan bulan-bulan normal yang sebesar 220 ribu ton. Hal ini tidak akan menyebabkan harga gula naik tajam karena pasokannya mampu menutup kenaikan permintaan.

2. Bulan September 2011
Pada bulan September, perdagangan di pasar komoditas global dihadapkan pada situasi yang mengkhawatirkan dan cenderung bearish (menurun). Hal ini kemudian juga berdampak pada pergerakan harga gula global. Selanjutnya, harga gula lokalpun melemah, dari kisaran harga 8600an menjadi 8153-8475 per kilogram.

Simpulan

Sebagai salah satu komoditi penting di Indonesia yang memiliki tingkat permintaan yang tinggi, harga gula cenderung meningkat dartahun ke tahun. Akan tetapi, pada bulan september 2011, harga gula menurun karena pengaruh turunnya harga gula global. Menurut Asosiasi Gula Indonesia, tahun depan, jumlah penawaran gula lokal akan meningkat sekitar 16% karena faktor cuaca, dan lahan yang juga meningkat. Walalupun demikian, patut juga diwaspadai peningkatan impor gula sebesar 42,1% yang akan berpotensi menambah persediaan gula.

Sumber-sumber

www.bni.co.id/portals/o/Document/GULA.pdf

http://www.kppu.go.id/docs/Positioning_Paper/%5B2010%5D%20Position%20Paper%20Industri%20Gula.pdf

http://vibiznews.com/column/commodity/2011/09/25/-gula-kian-pahit-bulan-ini-spekulasi-penurunan-permintaan/

 


Price Floor dan Price Ceiling

Dosen : Dr. Prihantoro

Price floor (harga dasar) adalah peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah untuk mengontrol harga dengan cara menetapkan harga minimum. Ketika pemerintah menetapkan price floor dan titik keseimbangan berada di bawah harga dasar yang telah ditetapkan, pasar akan mengalami surplus. Hal ini terjadi karena para produsen ingin menjual barang lebih banyak, tetapi jumlah permintaan akan berkurang karena harga yang ditetapkan telah meningkat. Selanjutnya, kelebihan penawaran yang terjadi biasanya akan dibeli oleh pemerintah agar harga keseimbangan berada di titik price floor. Sebagai tambahan, price floor dapat merugikan konsumen dan produsen karenaada total surplus ekonomi yang hilang.

Price ceiling (harga maksimum) adalah peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah untuk mengontrol harga dengan cara menetapkan harga maksimum. Price ceiling ini biasanya bertujuan agar harga produk dapat dijangkau oleh masyarakat yang memiliki daya beli rendah. Walaupun begitu, price ceiling akan menyebabkan shortage. Hal ini terjadi karena  jumlah permintaan akan meningkat, sedangkan para produsen menolak untuk menawarkan barang lebih banyak lagi sebab harga yang ingin mereka tawarkan dibatasi oleh kebijakan tersebut. Akibatnya, penawaran akan berkurang dan shortage akan terjadi.

Pergeseran Kurva Penawaran (Change in Supply)

Tugas : Teori Ekonomi 1 (Change in Supply (shirt))
Dosen : Dr.Prihantoro

Menurut hukum penawaran, saat harga meningkat, penawaran juga akan meningkat. Sebaliknya, saat harga turun, penawaran juga akan menurun. Tetapi, pada kenyataannya, hukum tersebut tidak selalu berlaku. Jika kita mengamati perekonomian sehari-hari, kita akan menemukan saat-saat dimana jumlah kuantitas penawaran meningkat atau menurun, tetapi tingkat harga tetap. Jadi, jika digambarkan ke dalam kurva penawaran, kita hanya akan melihat kurva bergerak ke kiri atau ke kanan, bukan ke atas atau ke bawah.

1. Biaya sumber daya
2. Teknologi produksi
3. Harga lain
4. Ekspektasi penjual
5. Jumlah penjual

Untuk lebih jelasnya, saya akan menggunakan produk baju sebagai contoh. Berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan kurva bergerak ke kanan (penawaran meningkat)

1.  jika harga kain, dan gaji pegawai menurun, produsen akan memproduksi lebih banyak baju dan secara otomatis jumlah penawaran akan meningkat.

2. Hal kedua adalah teknologi, saat produsen mengganti mesin yang digunakan untuk memproduksi baju (mesin jahit, dll) dengan yang lebih canggih, maka produsen bisa memproduksi lebih banyak baju dengan biaya yang sama. Hal ini juga akan meningkatkan kinerja dan efisiensi perusahaan. Akhirnya, penawaran bajupun meningkat.

3. Harga barang komplementer (barang pelengkap). Saat orang membeli baju, ada kemungkinan bahwa konsumen tersebut juga akan membeli celana atau rok. Ketika harga celana dan rok naik, produsen akan menjual lebih banyak baju agar penjualan celana dan rok meningkat. Hal tersebut meningkatkan penawaran baju kepada konsumen.

4. Karena trend di dunia fashion terus berubah, produsenpun ikut memprediksi harga dan mengatur jumlah penawarannya. Saat trend musik jazz terjadi, seorang produsen kaos yang memproduksi kaos musik akan menjual dan memproduksi lebih banyak, sebab, itu adalah peluang dan mereka telah memprediksi bahwa trend tersebut akan segera berganti. Maka penawaran kaos jazz akan meningkat.

5. Yang terakhir adalah jumlah produsen. Jumlah produsen yang banyak tentu akan meningkatkan jumlah penawaran suatu barang.

Sebaliknya, hal-hal berikut akan membuat jumlah penawaran turun.


1. Saat biaya sumber daya seperti gaji pegawai, modal bahan baku (kain), dan lainnya meningkat, maka biaya produksi bajupun akan ikut meningkat. Kemudian, saat biaya produksi baju meningkat, produsen hanya bisa memproduksi lebih sedikit baju dibandingkan biasanya dan jumlah penawaranpun akan berkurang (kurva bergeser ke kiri).

2. Penawaran baju juga bisa berkurang karena perubahan teknologi. Contohnya, saat perusahaan mengganti mesin jahit menjadi lebih modern, para pegawai ternyata tidak bisa menyesuaikan diri dengan mesin jahit canggih tersebut. Akibatnya, jumlah produksi akan berkurang dan menyebabkan jumlah penawaran juga menjadi berkurang.

3. Di dalam dunia fashion, perubahan mode selalu terjadi. Misalnya, model baju berompi, tank top, skinny jeans dan terus berubah hingga saat ini. Jika melihat ke dalam trend saat ini, produsen baju bisa memutuskan jumlah produksi baju. misalnya, seorang produsen baju memperkirakan bahwa model baju berompi akan menjadi trend di masa depan. Kemudian, produsen baju tersebut akan mengurangi produksi baju saat ini dan memproduksi lebih banyak di depan. Hal ini otomatis akan mengurangi penawaran baju berompi. (Ekspektasi penjual)

4. Sama seperti ketika terjadi peningkatan penawaran, jumlah produsen juga bisa berpengaruh terhadap berkurangnya penawaran. Jika produsen suatu  produk sedikit, otomatis jumlah penawarannya pun akan berkurang. (Jumlah penjual)

Semoga bermanfaat!

referensi : http://www.amosweb.com/cgi-bin/awb_nav.pl?s=wpd&c=dsp&k=supply+determinants

Globalisasi (Tugas Teori Ekonomi)

Dosen : Dr.Prihantoro
Blog     : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/

Pengertian Globalisasi

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.

Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir.

Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Secara sederhana, globalisasi dapat didefinisikan sebagai proses penduniaan yang ditandai dengan kemajuan berbagai bidang, terutama teknologi, yang memungkinkan kita mengakses informasi di seluruh dunia dengan cepat. Saat ini, era globalisasi juga disebut sebagai era informasi.

Ciri-Ciri Globalisasi

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

  • Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  • Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Globalisasi Perekonomian
Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.

Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:

  • Globalisasi produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menajdi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.
  • Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari manca negara.
  • Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas.
  • Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi’s, atau hamburger melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota ataupun di desa- menuju pada selera global.
  • Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan fair.

Investasi di Era Globalisasi

Salah satu hal yang menarik di era globalisasi adalah investasi. Dunia investasi semakin mudah disentuh dan dilakukan oleh siapa saja. Misalnya dunia pasar uang, dengan adanya komputer, para trader dapat mengakses dan melakukan transaksi hampir dimanapun.

Informasi yang berlimpah juga dapat memberikan kita beragam informasi untuk memprediksi harga maupun perekonomian yang ada. Dunia investasi juga semakin maju dan berkembang karena, para investor mendapatkan kemudahan-kemudahan yang lebih banyak. Menurut saya, seiring perubahan yang terjadi, dunia investasi juga akan terus berkembang.

Pemasaran di Era Globalisasi

Satu bidang  lainnya yang berkembang di era globalisai ini adalah pemasaran. Jika dulu orang-orang melakukan pemasaran secara langsung, kini pemasaran dapat dilakukan dimana-mana.

Contoh yang paling sederhana adalah internet. Dengan adanya internet, seseorang yang tidak memiliki tempatpun bisa berjualan. Sedangkan bagi mereka yang memiliki tempat untuk berjualan, Internet dapat digunakan sebagai metode pemasaran produk kepada masyarakat secara cepat, sebab jangkauan internet sangatlah luas.

Banyaknya informasi juga dapat digunakan untuk membuat suatu pemasaran lebih efektif. Kita dapat mencari hal-hal tentang kompetitor produk kita, ataupun hanya survei tentang kesukaan masyarakat sebelum meluncurkan sebuah produk atau inovasi baru. Karena hal tersebut, beberapa orang mengatakan bahwa orang yang menguasai dan memiliki banyak informasilah yang akan sukses di era globalisasi.

Dampak Positif Globalisasi

  • Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
  • Mudah melakukan komunikasi
  • Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
  • Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
  • Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
  • Mudah memenuhi kebutuhan

Dampak Negatif Globalisasi

  • Perilaku konsumtif
  • Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
  • Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
  • Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat

Sumber dan referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

Circular Flow (Tugas Teori Ekonomi)

Dosen : Dr.Prihantoro
Blog     : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/

Di dalam dunia ekonomi, masyarakat merupakan salah satu pihak terpenting, oleh sebab itu kita harus memahami dan mengetahui apa hubungannya dengan pihak-pihak  lainnya, seperti produsen, bank, dan pemerintah. Untuk mengetahuinya secara spesifik, kita bisa melihat ke diagram circular flow

Berikut adalah diagram circular flow  tersebut.

1.  Hubungan Masyarakat dengan Produsen
Seperti  diagram yang bisa kita lihat diatas, produsen dan masyarakat memiliki suatu hubungan timbal balik dan keduanya dapat saling memengaruhi satu sama lain. Tanpa masyarakat, produsen tidak akan bisa bertahan dan survive, sebaliknya tanpa produsen, kegiatan konsumsi tidak akan bisa dilakukan oleh masyarakat.

Lalu, apa contoh nyata dari hubungan keduanya? Sekarang, bayangkanlah bahwa masyarakat berhenti melakukan konsumsi. Saat masyarakat berhenti melakukan konsumsi, Produsen akan kehilangan pasarnya, yang mengakibatkan perusahaan tidak profitable. Akhirnya, Produsen tidak akan bisa membayar gaji para pegawainya dan akhirnya produsen mungkin akan gulung tikar.

Selain hal-hal diatas, sebagian besar produsen juga mempekerjakan masyarakat dan memberikan imbalan berupa gaji kepada mereka. Kemudian, gaji tersebut dapat digunakan masyarakat  untuk melakukan kegiatan ekonomi dan juga dapat digunakan untuk investasi yang berhubungan dengan produsen.

Kesimpulannya,  masyarakat dan produsen memiliki hubungan yang kuat yang saling bergantung satu sama lain.

2.  Hubungan Masyarakat dengan Pemerintah

Sekarang, marilah kita bahas hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Di dalam perekonomian, Sebenarnya secara sadar maupun tidak, banyak kegiatan di masyarakat yang berhubungan baik secara langsung atau tidak langsung dengan pemerintah.

Hubungan paling sederhana yang dapat kita lihat adalah pajak dan subsidi. Pajak adalah uang atau iurabn yang dibayarkan masyarakat kepada pemerintah, misalnya ketika Anda makan di restoran, Anda harus membayar lebih dari harga yang dijual oleh restoran tersebut. Sebaliknya, subsidi adalah bantuan dari pemerintah untuk membantu masyarakat atau suatu bisnis. Contoh subsidi yang paling sederhana adalah subsidi BBM

Selain pajak dan subsidi, masyarakat dan pemerintah juga berhubungan melalui policy (kebijakan). Pemerintah seringkali menetapkan kebijakan-kebijakan yang dapat memengaruhi kualitas kehidupan masyarakat, dan kestabilan perekonomian di suatu negara. Contohnya adalah kebijakan moneter, yaitu kebijakan yang berhubungan dengan uang. Dengan kebijakan moneter, pemerintah dapat berusaha untuk mengatur jumlah uang beredar yang akan berhubungan dengan masyarakat.

3.  Hubungan Masyarakat dengan Bank

Hal terakhir yang perlu diketahui adalah hubungan masyarakat dengan bank. Secara sederhana, bank merupakan lembaga keuangan yang menyimpan uang atau dana masyarakat, dan kemudian menyebarkannya kembali ke masyarakat yang membutuhkan uang tersebut. Sebagai gantinya, bank akan memberikan bunga kepada masyarakat yang menabung , dan mengenakan bunga pada masyarakat yang meminjam

Keberadaan bank di masyarakat juga membantu kita semua untuk mengembangkan uang dan aset kita. Bank juga memudahkan masyarakat untuk menjaga uangnya dan melakukan pembayaran dalam skala regional dan internasional. Menabung uang di bank juga cenderung lebih aman.

Bank juga berfungsi sebagai sumber dana. Bank memberikan pinjaman atau kredit bagi masyarakat yang membutuhkan uang untuk membuka usaha ataupun memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang mendesak. Pada akhirnya, masyarakat dan bank saling berhubungan. Kedua pihak mendapatkan keuntungan seperti yang telah dijabarkan diatas secara singkat.

4.  Pasar Modal

Aspek lainnya yang bisa kita tinjau yang berhubungan dengan kegiatan diatas adalah pasar modal. Pasar modal memberikan kesempatan yang besar bagi masyarakat untuk menanamkan atau mengiventasikan uangnya dalam bentuk saham atau obligasi.

Obligasi adalah surat pengakuan utang yang dikeluarkan oleh perusahaan kepada pemegang obligasi. Kelak, perusahaan akan membayar pokok hutang serta kupon bunganya pada saat jatuh tempo.  Jadi para pemilik obligasi, akan mendapatkan keuntungan dari kupon bunga tersebut.

Sedangkan saham adalah surat kepemilikan suatu perusahaan yang diperjual-belikan di bursa efek. Surat kepemilikan tersebut dikeluarkan oleh perusahaan yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.

lalu bagaimana cara agar kita bisa mendapatkan keuntungan melalui saham? Cara pertama adalah dengan memiliki saham tersebut. Maksudnya, sebagai pemilik kita akan mendapatkan deviden yang dibagikan di setiap akhir tahun.

Cara selanjutnya adalah dengan melakukan kegiatan trading. Para trader saham membeli saham, dan kemudian menjualnya saat harga saham tersebut naik. Selisih harga saham tersebut disebut capital gain jika harga jual lebih besar dari harga beli, dan disebut capital loss jika sebaliknya.

Sekilas tentang saham, para trader saham biasanya melakukan analisis sebelum melakukan kegiatan jual dan beli saham. Analisis ini terbagi menjadi dua yaitu, analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis teknikal adalah analisis harga menggunakan grafik harga di masa lampau untuk memprediksi harga selanjutnya, sedangkan analisis fundamental berhubungan dengan perekonomian makro dan mikro di suatu negara.

Selanjutnya adalah obligasi. Obligasi adalah surat pengakuan utang yang dikeluarkan oleh perusahaan kepada pemegang obligasi. Kelak, perusahaan akan membayar pokok hutang serta kupon bunganya pada saat jatuh tempo.

Kelangkaan Sumber Daya dan Pengelolaannya di dalam Ilmu Ekonomi (Tugas Teori Ekonomi)

Dosen : Dr.Prihantoro
Blog     : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/

Di dunia ini, Tuhan telah menciptakan sumber daya yang luar biasa, dan memberikan banyak berkat bagi manusia. Tetapi saat ini, kebutuhan kita sebagai manusia menjadi sangat banyak dan tidak terbatas, sedangkan sumber daya yang ada sangatlah terbatas. Maka kemudian, terjadilah suatu masalah ekonomi yang disebut kelangkaan.

Perlu diketahui, barang yang bersifat langka hanyalah barang yang terbatas atau barang ekonomi, untuk mendapatkan barang ekonomi ini seseorang harus melakukan pengorbanan. Jenis barang lainnya adalah barang bebas. Barang bebas tersedia dalam jumlah melimpah dan tidak memerlukan pengorbanan untuk memerolehnya, maka barang bebas tidaklah langka.

Karena adanya kelangkaan tersebut, manusia harus membuat pilihan-pilihan. Mereka harus memilih hal-hal yang lebih baik dan mengorbankan beberapa hal.  Kemudian, mereka bisa menentukan sesuatu berdasarkan opportunity costnya dan mencapai pemenuhan kebutuhan yang mereka harapkan. Akhirnya, cara-cara memilih inilah yang akan kita pelajari di dalam ilmu ekonomi.

Ilmu ekonomi mengatur dan memberikan pedoman bagi siapa saja untuk mengalokasikan sumber daya yang langka, dan memaksimalkan sumber daya tersebut. Pengelolaan yang dilakukan juga memberikan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan perekonomian, seperti produksi, konsumsi, dan lain-lain.

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.