Analisis Pemberlakuan Tarif Gula di Indonesia

Nama Kelompok
1. Christian Ramos K. (21210578)
2. Michael Alexander (24210380)

Kelas : SMAK-04
Dosen : Dr. Prihantoro
Pelajaran : Teori Ekonomi 1

Latar Belakang

Sejak awal, pengembangan sektor pertanian dianggap strategis di Indonesia. Hal ini disebabkan karena wilayah daratan yang sangat luas dan ditunjang oleh struktur geografis yang beriklim tropis sangat cocok untuk pembudidayaan berbagai komoditi pertanian.

Salah satu hasil dari sektor pertanian subsektor perkebunan adalah gula. Kebutuhan akan konsumsi gula ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan semakin bertambahnya penduduk, pertumbuhan industri yang baru dan kenaikan kesejahteraan masyarakat.

Industri gula tidak bisa dipisahkan dari sektor perkebunan tebu karena bahan baku utama industri gula adalah tebu, meskipun belakangan ini dikembangkan pula industri gula dengan bahan baku gula mentah (raw sugar). Walaupun Indonesia memiliki banyak pabrik gula, namun kapasitas produksinya ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional yang mencapai 2.6 juta ton per tahunnya.

Ada beberapa alasan mengapa pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan hasil produksi gula lokal. Alasan pertama adalah karena gula merupakan komoditi penting yang dikonsumsi baik secara langsung oleh rumah tangga maupun secara tidak langsung oleh berbagai industri makanan maupun minuman. Kedua, produksi tebu sebagai bahan mentah dari industri gula merupakan sektor pertanian yang penting bagi para petani sebagai mata pencaharian dan sumber pendapatan. Ketiga, karena sebagian besar industri pengolahan gula dikelola atau dimiliki oleh pemerintah, industri ini salah satu sumber penghasilan pemerintah yang penting. Alasan yang terakhir, karena negara Indonesia pernah menjadi pengekspor gula sebelum nasionalisasi industri gula milik Belanda pada tahun 1957. Karena itu wajar bila Indonesia ingin paling tidak menjadi negara swasembada gula (Siregar, 1998)

Karena banyak industri gula nasional yang terancam gulung tikar akibat pembebasan tarif impor, Siswono Yudhohusodo selaku ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) beserta Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyarankan agar pemerintah mengenakan tarif impor pada gula sebesar 25%-110%. Pada akhirnya karena desakan berbagai pihak, pemerintah akhirnya mencabut tata niaga impor beras dan gula yang terealisasi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 717/MPP/Kep/1999 tertanggal 28 Desember 1999, tentang Pencabutan tata Niaga Impor Gula dan Beras.

Tujuan
menentukan penawaran dan permintaan terhadap gula
kemudian menghitung surplus produsen dan surplus konsumen karena penerapan tarif
impor terhadap gula dan akhirnya menghitung penerimaan pemerintah dari tarif.

Metode Penelitian
Penelitian ini meneliti tentang model permintaan dan penawaran gula dan
keseimbangan harga gula pada waktu dikenakan tarif impor. Variabel-variabel yang mempengaruhi penawaran antara lain adalah : produksi gula; harga produsen gula; harga
produsen barang substitusi, dalam hal ini beras; dan luas panen tebu. Sedangkan variabel
yang mempengaruhi permintaan adalah konsumsi gula per kapita; harga konsumsi gula;
harga konsumsi barang komplemen, dalam hal ini kopi; GDP per kapita, dan jumlah
penduduk. Karena data yang berjumlah besar, penelitian ini mengambil data selama 16
tahun mulai tahun 1983 sampai pada waktu dikenakan tarif impor gula yaitu tahun 1998.
Penjelasan variable dan sumber datanya dijabarkan di Table 1. Data yang digunakan
dapat dilihat di Widiastuty, 2000.

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yaitu analisa regresi
serta analisa surplus konsumen dan analisa surplus produsen. Analisa regresi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisa logaritma yang diturunkan dari fungsi
Cobb-Douglas sebagai berikut untuk fungsi permintaan (Llewelyn,1999:22):

Penawaran gula diasumsikan sama dengan produksi gula (Qst) ditambah impor gula (I), yaitu sebagai berikut :

Setelah analisa permintaan dan penawaran dilakukan, analisa surplus konsumen dan
analisa surplus produsen dapat dilakukan. Kurva permintaan dan kurva penawaran yang
ditentukan dari analisis regresi di atas digunakan untuk memperhitungkan jumlah surplus
konsumen dan surplus produsen sebelum ada kebijakan tariff dari pemerintah. Kemudian
harga dinaikkan 25% oleh karena pemberlakuan tariff dan surplus konsumen serta surplus
produsen diperhitungkan lagi.

Analisa dan Hasil

Dalam Tabel 2, tercantum deskripsi data variabel yang berpengaruh terhadap
permintaan dan produksi gula di Indonesia selama 16 tahun, dari tahun 1983-1998. Data
selengkapnya dilaporkan di Wdidastuty, 2000. Rata-rata, semua variabel cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, kecuali harga riil konsumen dan produsen untuk gula,
serta luas panen tebu dan produksi gula. GDP naik setiap tahun kecuali tahun 1998, di
mana GDP per capita mengalami penurunan sebesar 13% akibat krisis moneter.

Nilai riil untuk harga gula (konsumen dan produsen), GDP, harga beras dan harga
kopi digunakan daripada nilai nominal oleh karena nilai riil tidak mengandung unsur
inflasi dan menunjukkan perubahan harga dan GDP yang sebenarnya.

Untuk analisa regresi, terdapat tiga variabel yang mempengaruhi produksi gula
nasional dalam penelitian ini yaitu: harga produsen gula, harga produsen beras, dan luas
panen tebu. Hasil analisa yang tercantum di Tabel 3 menunjukkan bahwa fungsi
penawaran tidak elastis. Terlihat dari nilai P yang tidak signifikan untuk semua variabel
yang mempengaruhi penawaran. Penelitian sebelumnya oleh Isang Gonarsyah dan
Ernawati(1999) juga menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Di antara ketiga variabel
tersebut, luas panen tebu terlihat sebagai variabel yang paling mendekati signifikan (P =
0,11). Koefisien luas panen tebu sebesar 0.51 menunjukkan bahwa kenaikkan luas panen
sebesar 1 persen, ceteris paribus, mengakibatkan peningkatan produksi sebesar 0,5
persen. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan luas panen tebu tidak telalu
berpengaruh pada produksi gula karena produktivitas pabrik dan tebu yang rendah.
Dibandingkan dengan penelitian yang terdahulu oleh Isang Gonarsyah dan Ernawaty
(1999), yang menunjukkan koefisien sebesar 6,13, nilai elastisitas ini jauh lebih kecil.
Variabel luas panen tebu tidak elastis (0,51), menunjukkan bahwa petani akan tetap
menanam tebu dalam kondisi apapun dan tidak terlalu terpengaruh oleh harga gula yang
terjadi di pasar. Hal ini disebabkan oleh karena petani terikat oleh program TRI yang
mengharuskan petani untuk menepati kontrak yang berlaku, sehingga petani harus
menanam tebu walaupun harganya tidak menguntungkan bagi mereka.

Elastisitas harga produsen gula (0,21) yang tidak elastis menunjukkan bahwa pabrik
gula tetap melakukan kegiatan produksi berapapapun harga gula yang terjadi di pasar.
Produksi gula juga tidak terpengaruh oleh harga beras yang terjadi di pasar. Hal ini
ditunjukkan oleh koefisien harga produsen beras yang tidak elastis (0,25).

Hasil analisa regresi dari Tabel 4 menunjukkan bahwa di antara tiga variabel yang
mempengaruhi fungsi permintaan, hanya dua variabel yang paling berpengaruh yaitu
harga riil konsumen gula (P = 0,04) dan harga riil konsumen kopi (P = 0,04). Hasil
analisa menunjukkan bahwa GDP per kapita tidak elastis (0,12), menunjukkan bahwa
peningkatan GDP per kapita sebesar 1 persen, ceteris paribus, akan meningkatkan
konsumsi gula sebesar 0,12 persen. Koefisien ini lebih kecil apabila dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya oleh Isang Gonarsyah dan Ernawati (1999) sebesar 0,54. Hal ini
menunjukkan bahwa gula telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang
harus dipenuhi dan relatif rendahnya kebutuhan akan konsumsi gula.

Koefisien harga konsumen kopi 0,554, tidak elastis, menunjukan bahwa kenaikan
harga kopi sebesar 1 persen, ceteris paribus, akan menaikkan konsumsi gula sebesar 0,55
persen. Hal ini menunjukan bahwa harga kopi sebagai komplemen gula tidak
mempengaruhi konsumsi gula. Koefisien harga konsumen gula juga tidak elastis (-0,039), menandakan bahwa harga gula tidak banyak mempengaruhi konsumsi gula.
Hasil analisa regresi menunjukkan bahwa baik kurva penawaran maupun kurva
permintaan adalah tidak elastis sempurna. Karena itu, surplus konsumen dan surplus
produsen dianalisa dengan menggunakan kurva yang tegak lurus dengan tingkat tarif
sebesar 25%.

Pengaruh kebijakan tariff sebesar 25% terhadap surplus konsumen dan surplus
produsen digambarkan di Gambar 2. Pada tahun 1998, konsumsi gula per kapita di
Indonesia mencapai 16,39 kilogram per kapita. Jumlah penduduk Indonesia mencapai
201.537.838 orang. Sehingga konsumsi total (QL) pada tahun 1998 = 3.303.205,16 ton.
Menurut hasil penelitian Isang Gonarsyah dan Ernawati, impor mencapai 16,61 persen
total konsumsi. Jadi konsumsi tanpa impor (QS) mencapai 2.754.542,79 ton
(3.303.205,16* (1-0.1661)). Impor gula (QI) pada tahun 1998 mencapai 548.662,37 ton
(QL – QP). Harga konsumen gula sebelum tarif (P)mencapai Rp. 2.778.000 per ton.
Dengan tarif sebesar 25 persen, harga (PT)menjadi Rp. 3.472.500 per ton.

Karena kurva menjadi tidak elastis, kenaikan surplus produsen setelah tarif menjadi
sama dengan kerugian yang diderita oleh konsumen akibat tarif. Keuntungan produsen
dan pemerintah karena tarif adalah daerah PDBPT sebesar Rp. 2.294.075.983.620 (QL*(PT-P)). Sebagian dari keuntungan produsen dinikmati oleh pemerintah (daerah
ABCD) sebesar Rp. 381.046.015.965. Sedangkan sisanya (daerah PCAPT ) sebesar
Rp. 1.913.029.967.655 diterima oleh petani, produsen gula, importir dan lain-lain.

Sumber : http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/15607/15599
Penulis : Lily Koesuma Widiastuty (Alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen – Universitas Kristen Petra) dan Bambang Haryadi (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen – Universitas Kristen Petra)

Analisis

Gula yang merupakan salah satu bahan pokok di Indonesia, mengalami penurunan harga yang terus menerus di tahun 90an. Kemudian, pada awal tahun 1998, industri gula lokal berada di ambang kehancuran oleh karena nota komitmen (Letter of Intent/LoI) yang ditandatangani oleh pemerintah dan IMF pada tanggal 5 Januari 1998. maka dari itu harga gula yang lebih tinggi dari harga rata-rata menyebabkan menyebabkan perubahan surplus konsumen, surplus produsen dan pendapatan pemerintah.  Pada akhirnya, Tingkat tarif gula impor yang optimal tidak bisa ditentukan. Berapapun tarif yang ditetapkan, akan merugikan konsumen dan menguntungkan produsen. Jika pemerintah tetap ingin mempertahankan industri gula, pemerintah sebaiknya mengalokasikan lebih banyak dana ke dalam industri gula dan menentukan solusi yang tidak merugikan konsumen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s