Ringkasan Isi Berbagai Jurnal Elastisitas

Tugas : Teori Ekonomi 2
Dosen : Dr.Prihantoro

Judul Jurnal : Life Insurance Demand Determinants
Penulis            : Subir Sen dan Dr. S. Madheswaran

Ketika krisis ekonomi terjadi, pemintaan asuransi di Asia akan menjadi bersifat elastis, sebab saat terjadi krisis, perekonomian akan cenderung terganggu dan tidak stabil, sehingga mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia menjadi rendah. Selain itu, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya akan mengutamakan konsumsi. Maka, perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.

Selanjutnya, ketika perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis terjadi, hal ini membuat membuat pendapatan masyarakat Asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang relatif tinggi, sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi  bersifat inelastis.

 

Judul Jurnal : Determinants of Indonesian Palm Oil Export: Price and Income Elasticity Estimation
Penulis : Ambiyah Abdullah
Tahun  : 2011

Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Berdasarkan hal tersebut, menentukan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit di Indonesia sangatlah penting. Hal itu terlihat jelas karena, jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia mengekspor minyak sawit jauh lebih banyak. Hal ini dikarenakan faktor lahan di Indonesia yang lebih luas dan memungkinkan untuk di tanami kelapa sawit lebih banyak.

Melalui penelitian ini, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastis, baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Nilai elastisitas Jangka pendek untuk ekspor sebesar 0,54 dan untuk income sebesar 0,61. Serta untuk jangka panjang, nilai untuk ekspor sebesar 0,41 dan untuk income sebesar 0,49.

Temuan ini sesuai dengan teori pada pangsa pasar, alokasi anggaran, dan penggunaan dari minyak sawit sebagai bahan baku untuk barang-barang seperti kosmetik, minyak goreng, margarine, dan ketersediaan dari barang substitusi untuk ekspor minyak sawit Indonesia.

Selain itu, Temuan ini penting untuk:

(1)  strategi pemasaran seperti diferensiasi produk (produk dengan nilai tambah) sehingga menciptakan layanan khusus untuk konsumen yang loyal dan meningkatkan standar kualitas

(2)   kebijakan pemerintah (kebijakan perdagangan dan peraturan domestic) harus diterapkan    oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung ekspansi minyak sawit di Indonesia

Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit, dengan tujuan mengendalikan harga minyak goreng lokal. Untuk kebijakan domestik dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia.

Di masa yang akan datang, diperkirakan akan terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan.

Lalu, Inelastis pada minyak sawit terjadi karena:

  1. Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
  2. Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak

Judul Jurnal : Dampak Kebijakan Pengurangan Subsidi Harga Bahan Bakar Minyak terhadap Kinerja Industri Hasil Hutan Kayu ( Impact of Oil Price Subsidy Reduction Policy on Performance of Wood Products Industry )
Penulis : Satria astana

Tahun Anggaran 1998/1999 besarnya subsidi harga BBM yang dibayarkan oleh pemerintah kepada Pertamina adalah Rp 27.5 triliun. Nilai subsidi BBM ini merupakan selisih dari penjualan BBM dalam negeri sebesar Rp 22.5 triliun dan komponen biaya BBM sebesar Rp 50 triliun.

Dengan pengurangan subsidi harga BBM sebesar 30% atau kenaikan harga BBM rata-rata 12%, jumlah anggaran subsidi harga BBM dalam RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) tahun 2000 masih tinggi yaitu Rp 18.3 triliun.

Kenaikan harga BBM dikhawatirkan mendorong lebih jauh penurunan kinerja industri hasil hutan kayu, khususnya dalam hal penawaran dan permintaannya, karena dua alasan ini. Pertama, potensi kayu hutan alam telah menurun, hal ini telah menyebabkan biaya logging meningkat secara riil dari sebelumnya.  Kedua, dalam biaya pemanenan kayu, komponen BBM berkontribusi signifikan (sekitar 30%)

Selain itu, saat kondisi Permintaan konstan, pengurangan subsidi atau kenaikan harga BBM di industri kayu olahan hilir menggeser kurva penawaran kayu olahan hilir ke kiri. Sedangkan Dalam kondisi penawaran konstan, penurunan permintaan menyebabkan harga dan keseimbangan permintaan dan penawaran kayu olahan hulu menurun.

Akhirnya, model industri hasil hutan kayu yang dibangun telah menangkap realitas yang menjadi perhatian dalam kinerja industri hasil hutan kayu dan dapat menjelaskan hubungan-hubungan ekonomi yang terbentuk sesuai dengan prediksi teori.

Secara umum, kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut. Selain itu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada perusahaan industri kayu tersebut.

Judul Jurnal : Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia
Penulis : Guntur Sugiyarto, Adam Blake, M. Thea Sinclair

Dampak globalisasi menimbulkan dampak baik dan buruk. Sebelumnya, globalisasi dianggap memiliki efek buruk terhadap neraca perdagangan Indonesia, sebab dengan adanya perdagangan bebas / liberalisasi perdagangan maka, pemerintah akan membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik. Hal ini  kemudian berdampak pada sisi produksi, dengan penurunan harga domestic. Selanjutnya, hal tersebut akan membuat para produsen lebih kompetitif dalam bersaing di dalam pasar.

Sebenarnya, ini merangsang produksi di dalam negeri dan meningkatkan lapangan pekerjaan serta PDB. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri , maka pendapatan rumah tangga akan meningkat dan menciptakan lebih banyak permintaan di dalam pasar domestik karena, ketika permintaan dalam negeri meningkat maka jumlah impor barang akan meningkat, dan jumlah ekspor barang akan menurun. Itu semua bisa terjadi dikarenakan neraca pasar domestik lebih menguntungkan bagi produsen. Sehingga, neraca perdagangan jadi memburuk.

Sebagai tambahan, ketika pajak yang diterima oleh pemerintah berkurang, neraca perdagangan akan semakin memburuk. Ini terjadi karena  pemerintah akan menjadi kurang mampu dalam membiayai anggaran pengeluarannya. Walaupun demikian, hal ini memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga yang meningkat.

Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk itu,  sektor pariwisata bisa menjadi solusinya. Seperti yang telah dijelaskan dijurnal bahwa kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi  dan penyerapan tenaga kerja domestik meningkat.

Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan pendapatan yang berjalan semakin tinggi, kita dapat menyimpulkan bahwa kasus ini bersifat elastis. Untuk mencegah terjadinya inelastic, maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga dan menurunkan tarif pajak.

 

Judul   :        Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle:

                         A Study Of Consumer Durables

                         Dinamika Elastisitas Harga Pada Siklus Hidup Produk :

                         Penelitian Mengenai Pemakaian Tahan Lama

Penulis :        Philip M. Parker dan Ramya Neelamegham

Berdasarkan penelitian Parker (1992) yang hanya mempertimbangkan pembelian pertama, dan Simon (1988) yang mempertimbangkan daya jual merk (sebagai faktor untuk menarik minat konsumen). Maka, berdasarkan pengalaman yang ada, menunjukkan bahwa keseluruhan kategori harga penjualan bersifat elastis.

Kematian pertama dalam nilai absolut, akhirnya nilai tersebut akan meningkat lagi jika produk tersebut menghadapi penurunan fase dari siklus hidup produk (karena barang subtitusi atau perubahan selera, dll). Model dasar dapat dengan mudah dimodifikasi untuk menghitung keseluruhan penjualan (pembelian pertama ditambah pengulangan pembelian). Jika tidak berubah, model dasar ini bisa digunakan dalam waktu 5-10 tahun.

Berdasarkan pembelian pertama yang dilakukan oleh konsumen, yang kemudian mendorong konsumen tersebut untuk melakukan pembelian kembali, menunjukkan bahwa hasil penelitian Simon tentang pentingnya daya jual merk telah menjadi bukti empiris dari dinamika elastisitas barang tersebut. Contoh daftar barang sebagai berikut :

  1. Frezeers (-22,8)
  2. Kompor (-3,2)
  3. Kulkas (-2,3)
  4. Setrika uap (-2,2)
  5. Blender (-2,2)

Kesimpulannya adalah rata-rata tingkat elastisitas perabot rumah tangga adalah -2,7.

Dari kelima barang tersebut, barang yang memiliki elastisitas tertinggi adalah Frezeer, karena Frezeer tidak mempunyai barang subtitusi.

Suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat terjadi pembelian kembali, dan fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi.

Setelah tahap maturity, produk akan memasuki fase decline (penurunan). Pada fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan. Sebab persaingan semakin ketat dan mencapai tingkat elastisitas tertinggi.

Judul Jurnal : THE IMPACT OF ADVERTISING ON CONSUMER PRICE SENSITIVITY IN EXPERIENCE GOODS MARKET
Penulis : Tülin Erdem & Michael P. Keane & Baohong Sun

Jurnal ini mejelaskan bagaimana aktivitas pemasaran iklan TV dalam mempengaruhi sensitivitas harga konsumen yang dihadapi sebuah merk. Pertama-tama, kita perlu mengetahui definisi dari sensitivitas harga konsumen, yaitu kepekaan relatif dari harga dalam mempengaruhi keputusan pembelian dan kecenderungan untuk melakukan pencarian harga untuk menemukan harga yang lebih baik.

Penelitian ini dilakukan di Chicago dan Atlanta dengan menggunakan 18 merk pada pasta gigi, sikat gigi, deterjen dan saus kecap. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa iklan dapat menyebabkan suatu produk akan semakin dikenal oleh banyak orang. Selanjutnya, semakin banyak iklan atau aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh seorang produsen maka secara otomatis hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk tersebut.

Ketika tingkat kepercayaan konsumen meningkat maka terciptalah sebuah brand yang terkenal, sehingga masyarakat tidak lagi memperhitungkan tingkat harga pada produk tersebut. Hal inilah yang kemudian dimaksud dengan iklan yang dapat mengurangi sensitivitas harga konsumen.

Pada indikator ini sensitivitas harga ditentukan oleh seberapa banyak dan dalamnya informasi yang didapat konsumen mengenai harga dan kualitas yang ditawarkan berbagai produk sejenis yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, konsumen yang memiliki informasi harga dan kualitas yang lebih banyak akan menurunkan tingkat sensitivitas harga seorang konsumen , namun sebaliknya apabila konsumen yang tidak memiliki banyak informasi mengenai harga dan kualitas produk yang akan mereka konsumsi maka hal tersebut dapat   meningkatkan sensitivitas harga seorang konsumen.

Jika ditelaah lebih jauh, iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang. Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar.

Kesimpulannya, iklan yang dapat menarik konsumen akan menurunkan sensitivitas harga.

Judul Jurnal : Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy
Penulis : M.A Bernstein and J. Griffin

Departement of Energy telah melakukan riset terhadap beberapa sumber energy, seperti listrik rumahan, gas alam, dan listrik industri dengan tujuan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.

Jika harga listrik naik, maka ada tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan. Pertama, menggantinya secara total, kedua, mencari substitusinya, dan terakhir, meminimalisir penggunaan listrik.

Kenaikan harga listrik yang tidak signifikan akan mempengaruhi penurunan demand. Hal ini terjadi karena, jika ada kenaikan harga, konsumen tidak dapat mengurangi pemakaian listrik secara drastic, melainkan hanya dapat berhemat atau menambahkan alat yang bisa mengefisiensi pemakaian listrik.

penggunaan listrik sama seperti termostast dan dalam jangka panjang mereka akan mengkonversi listrik dengan sumber energi lainnya. Kenaikan demand dapat dipengaruhi oleh kenaikan income. Ketika income meningkat, konsumen dapat membeli peralatan elektronik baru sehingga penggunaan listriknya (demand) meningkat. Selain itu, elastisitas dipengaruhi oleh adanya barang substitusi dan barang komplementer.

Untuk kasus ini jika harga listrik naik :

  1. Dalam jangka pendek elastisitasnya bersifat inelastis karena konsumen tidak memiliki pilihan, dan hanya dapat mencoba untuk menghemat atau mengurangi penggunaan listrik.
  2. Dalam jangka panjang, elastisitasnya bersifat elastis karena mungkin saja telah ditemukan inovasi – inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.

Judul Jurnal : THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD
Penulis : Tatiana Andreyeva, PhD, Michael W. Long, MPH, and Kelly D. Brownell, PhD

Penelitian ini bertujuan untuk memberkan ringkasan mengenai elasitas permintaan harga dan perilaku konsumen Amerika Serikat.

Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi daripada makanan sehat. Berdasarkan studi, 31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat jelas bahwa konsumsi makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.

Dalam menyelesaikan hal ini, peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak.

Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga  sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.

Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah, walaupun subsidi telah diberikan, pada kenyataannya tidak dapat meningkatkan peningkatan permintaan secara signifikan, dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastis.

Judul Jurnal : Pentingnya Relatif Harga & Kualitas Pilihan Penyedia Layanan Konsumen : Kasus Mesir (The Relative Importance of Price and Quality in Consumer Choice of Provider:  The Case of Egypt)
Penulis : Winnie C. Yip  dan Aniceto Orbeta

Kompetisi telah menjadi kata kunci untuk mengurangi inflasi biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dalam dua dekade terakhir. Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Swedia, dan negara-negara kurang berkembang, seperti beberapa republik bekas Uni Soviet, Kolombia, Chili, semuanya memeluk dalam reformasi sektor kesehatan. Baru-baru ini, konsep tersebut mempromosikan kompetisi. Kini, perawatan kesehatan itu sendiri terdiri dari dua sektor, yaitu sektor publik dan swasta. Selain itu, ada dua kendala yang ditemui yaitu permintaan pasar untuk layanan dan penyediaan input.

Hipotesa dari kasus yang ada di Mesir adalah, masyarakat Mesir lebih memilih sektor swasta dan rela membayar lebih tinggi demi mendapat kualitas yang terbaik. Hal itu dikarenakan penghasilan masyarakat Mesir yang rata-rata sudah mencukupi.

Jika penyedia melakukan penurunan harga maka akan ada pengorbanan kualitas. Sebaliknya, jika penyedia meningkatkan kualitas maka akan ada pengorbanan harga yang lebih tinggi untuk meningkatkan layanan atau penambahan teknologi. Ada pula asumsi yang dapat diberikan ketika penyedia terlibat dalam persaingan harga. Berdasarkan asumsi ini, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Akan tetapi, jika permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. Lain halnya jika penyedia cenderung lebih dalam persaingan kualitas, hal itu akan sangat penting untuk memahami aspek-aspek yang diinginkan konsumen. Jika konsumen responsif terhadap aspek kualitas yang meningkatkan hasil kesehatan, pemerintah mungkin lebih mengandalkan kekuatan pasar untuk menjamin kualitas layanan.

Pada jurnal ini ada hipotesa proporsi relative yang menyatakan bahwa sektor swasta memegang angka lebih tinggi dan rela membayar lebih tinggi, dibandingkan memilih sektor publik yang kualitasnya terhitung rendah. Setelah itu pada penelitiannya ditemukan bahwa pasien lebih responsive pada perubahan kualitas daripada perubahan harga. Ini disebabkan karena yang dibahas disini adalah sektor kesehatan yang mempertaruhkan nyawa, maka pengorbanan berupa materipun rela dilakukan. Selain itu pada penelitian terdalulu juga ditemukan bahwa elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan.

Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat.

Berikut adalah indikasi dari kualitas ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Indikasi kualitas : kualitas dokter dan obat.
  • Indikasi intrapersonal : kualitas pelayanan, teknologi, kenyamanan, dll.

Jika sektor publik ingin dapat bersaing dengan sector swasta maka mereka harus bisa manjamin kualitas layanan dengan baik, atau jika tidak sasaran mereka untuk pangsa pasar harus lebih dispesifikasi lagi dengan menyasar masyarakat miskin yang memang belum mampu untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi yang meminta biaya tinggi pada sektor swasta.

Judul Jurnal : Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in  Indian Manufacturing
Penulis :
Bishwanath Goldar

Berdasarkan survei tahunan data industri pada 1980-1981 ke 1997-1998 dan tren dalam elastisitas dianalisa menggunakan data 1973-1974 ke 2003-2004, elastisitas permintaan tenaga kerja di industry India meningkat karena adanya liberalisasi perdagangan.  Hal ini juga dikuatkan oleh hasil ekonometrik penelitian yang serupa, yang menunjukan bahwa liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industry india.

Elastisitas permintaan tenaga kerja di industri pascareformasi ini lebih rendah karena minimumnya lapangan pekerjaan yang tidak dapat meresap semua labor. maka dari itu, tingkat labor mengalami kenaikan pada masa pascareformasi. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.

Jadi, Perdagangan bebas dan permintaan tenaga kerja di Industry india adalah elastis  karena permintaan akan tenaga kerja di India pada masa pasca reformasi mengalami peningkatan sedangkan biaya atau gaji untuk tenaga kerja selalu mengalami penurunan.

Sebagai tambahan, elastisitas tenaga kerja yang ada di praformasi dan di pascareformasi berbanding terbalik dan penurunan biaya tenaga kerja berbanding tidak sama dengan jumlah labor yang mengalami kenaikan pada pascareformasi.

Maka, permintaan tenaga kerja bersifat elatis pada masa karena permintaan akan tenaga kerja  mengalami peningkatan sedangkan biaya tenaga kerja selalu mengalami penurunan. Sedangkan zaman sekarang, permintaan tenaga kerja bersifat elastis karena para labor dapat diganti oleh mesin, jadi menyebabkan tingkat pengangguran yang ada.

Judul Jurnal : EMPIRICAL GENERALIZATIONS ABOUT THE IMPACT OF ADVERTISING ON PRICE SENSITIVITY AND PRICE

Penulis : ANIL KAUL AND DICK R. WITTINK Cornell University

Respon konsumen terhadap promosi mengidentikasikan bahwa keputusan konsumen bergantung terhadap merk dan banyaknya potongan harga yg ada pada produk tersebut. Berdasarkan informasi tersebut, hal itu akan menjadi bahan pertimbangan bagi produsen dalam menentukan strategi promosi dan periklanan.

Salah satu strategi yang diperlukan adalah positioning, karena positioning akan mengarahkan fungsi suatu iklan, yang pada akhirnya memiliki dampak terhadap sensitivitas harga konsumen.

Pada umumnya, sensitivitas harga sebagian besar dirasakan oleh masyarakat kalangan menengah kebawah. Konsumen menengah kebawah sangat peka akan harga dan alternatif produk. Para konsumen ini biasanya membeli produk pada saat produk tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah. Namun, lain halnya dengan masyarakat menengah keatas yang mempunyai persepsi sendiri tentang harga, dimana mereka menilai bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas dari produk tersebut.

Jika sebuah merek memiliki pencitraan  yang kuat dengan konsumen, maka produk tersebut cenderung memiliki pangsa pasar yang lebih tinggi dan lebih mudah untuk mencapai penetrasi pasar yang lebih besar, dan akan menghasilkan pengeluaran biaya yang lebih efiesien dalam mempromosikan produk tersebut.

Selain itu, Penelitan di masa depan harus lebih berkonsentrasi pada aspek karakteristik iklan yang dapat mempengaruhi sifat atau besarnya interaksi dari iklan tersebut.

Judul Jurnal : Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand
Penulis : Niovi Karathodorou, Daniel J. Graham and Robert B. Noland

 Penelitian ini dilakukan dengan cross-sectional data dari 32 negara besar dari eropa, Canada, asia, Australia dan amerika. Jurnal ini menjelaskan tentang bagaimana mengevaluasi kepadatan jumlah penduduk di perkotaan  dapat mempengaruhi permintaan relatif untuk bahan bakar transportasi jalan, dan memberikan perkiraan elastisitas yang sensitif terhadap pola fasilitas umum. Bahan bakar konsumsi per kapita terhadap kepadatan perkotaan diperkirakan dalam rentang -0.33 sampai  -0.35. Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastis, fenomena ini terjadi di kota, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relative singkat. Pemakaian transportasi umum juga dapat menghemat pemakaian BBM sehingga dalam pemakaian BBM lebih efisien.

Kesimpulannya,harga BBM mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.

Judul Jurnal : Long term fuel price elasticity: Effects on mobility tool ownership and residential location choice
Penulis : Alexander Erath and
Kay W. Axhausen

Penelitian ini meneliti efek jangka panjang dari kenaikan harga bahan bakar. Untuk itu dilakukan eksperimen-eksperimen sebagai berikut.

SP-1 : Dampak Perubahan Harga atas Kepemilikan Kendaraan

Hasil : bahwa dengan naiknya harga bbm, pola pikir masyarakat akan berubah. Mereka menjadi enggan untuk memakai kendaraannya atau membeli kendaraan baru.

SP-2: Harga Bahan Bakar di Wilayah Tertentu

Hasil : bahwa ada perbedaan harga di wilayah pedesaaan dan perkotaan. Yaitu harga di perkotaaan lebih mahal daripada di pedesaan perbedaan tingkat permintaan.

SP-3: Efek Perubahan Harga di 2 Wilayah yang Berbeda

Hasil: Di 2 wilayah yang berbeda, pedesaan dan perkotaan, efek perubahan harga terjadi  karena sifat elastisitas di perkotaan bersifat elastis (populasinya besar), sedangkan di pedesaan bersifat inelastis (populasinya kecil)

Esensi :

Efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM, akan membuat masyarakat bereaksi dengan mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil diesel.

Untuk jangka panjang, elastisitas harga bensin berkisar antara -0,14 sampai -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel.

Judul Jurnal : Price and Income Elasticities of Residential Water Demand
Penulis : Jasper M. Dalhuisen, Raymond J.G.M. Florax, Henri L.F.M. de Groot, and Peter Nijkamp

Di tahun 2011,  terjadi permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa,k arena di negara tersebut mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan.

Setelah diterapkan, ternyata terjadi kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan, karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat, sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai.

Akibatnya, di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 2 Metode . Yang pertama adalah metode increasing block rate tariff, yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun.

Selanjutnya adalah metode decreasing block rate tariff,  yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif.

Akan tetapi, di dalam kenyataannya,  kedua metode ini  tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi, sebab hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dll.

Judul Jurnal : PLAYING WITH FIRE:  CIGARETTES, TAXES AND COMPETITION FROM THE INTERNET

Penulis : Austan Goolsbee and Joel Slemrod

Sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa para peneliti menganggap rokok itu bersifat inelastis, sehingga rokok dapat  menaikkan pajak, serta dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat.  Di sisi lain, rokok adalah salah satu penyebab utama masalah kesehatan di negara ini.

Saat ini dengan teknologi internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Sayangnya, pajak yang lebih tinggi justru menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Hal ini terjadi karena setelah di teliti, jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet.

Maka, dapat disimpukan bahwa pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Keberadaan internet membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s