Pelajaran dari Bank

Halo semuanya, cukup lama saya tidak posting di blog ini. Saya harap kabar kalian semua tetap luar biasa ya?

Hari ini saya ingin menceritakan sedikit pengalaman yang baru saya dapatkan ketika pergi ke bank. Namun berbeda dari post biasanya, khusus kali ini saya akan menggunakan bahasa pergaulan remaja sehari-hari, seperti lo dan gua. Selamat menikmati.

Hari ini adalah hari jumat, dan hari ini gua udah punya beberapa rencana, seperti pergi ke Bank untuk meminta aktivasi internet banking, baca buku, olahraga, dan belajar trading. Saat itu, gua pikir semuanya akan berjalan lancar, dan rencana gua akan menjadi rencana yang perfect.

Kira-kira jam 12, setelah gua olahraga, gua pun siap-siap dan akhirnya pergi ke bank yang gua tuju. Sebagai catatan, bank ini adalah salah satu bank swasta yang sangat terkenal dan gua yakin semua orang juga udah pada tau. Bank ini juga terkenal karena antriannya yang seringkali panjang. Apakah temen-temen tau?😀 hahaha

Well, sesampainya di bank tersebut, gua-pun melangkahkan kaki untuk masuk. Saat itu satpam menyambut gua sambil mengucapkan selamat siang. Karena gua emang belom tau gimana prosedur pengaktifan internet banking, maka gua nanya dia dan dia bilangin  ke gua prosedurnya. Dia bilang gua harus antri, dan gua dikasi nomor antrian. Nomornya 42.

Gua-pun langsung duduk dan nunggu. Saat itu, gua liat bahwa nomor antrian yang lagi dipanggil adalah nomor 38 dan gua pikir, gua bakal nunggu cuman sebentar, paling lama 1 jam. Ternyata pikiran gua dan kenyataan itu sangat jauh berbeda. Gua udah nunggu 1 jam dan yang ada nomor itu tetep di nomor 38. Kenapa bisa begitu? ternyata semua terjadi karena adanya nasabah prioritas.

Jadi di bank-bank itu kan biasanya ada nasabah-nasabah yang super kaya, nah mereka ini disebut nasabah prioritas dan selalu didahulukan. Jadi, nasabah prioritas itu ga perlu antri dan antri. Sebenernya sih gua pikir ga fair, tapi ya gua juga ngerti kalo memang seharusnya begitu kan? hehe🙂

Nah pas gw lagi ngantri kali ini ada 2 orang nasabah prioritas. yang pertama itu begitu dateng langsung disuruh nunggu gara-gara semua orang lagi pada sibuk ngelayanin nasabah lain yang udah terlanjur dilayanin duluan, setelah itu langsung dilayanin tanpa pake nomor antrian. Yang unik, setelah nasabah prioritas pertama duduk, datanglah nasabah prioritas kedua bersama anaknya, yang keliatannya lebih superior dari nasabah prioritas yang pertama.

Kenapa bisa gua bilang begitu? karena  semua orang sangat hormat sama dia dan semua panggilnya bos. Khusus buat nasabah prioritas kedua ini, dia langsung dilayanin sama managernya, dan urusan dia dan anaknya selesai dalam beberapa menit aja. Jujur, ngeliatnya awesome aja. Gua juga jadi tau kalo nasabah prioritas ini bisa dibagi-bagi lagi jadi yang tingkat kecil sampe tingkat yang gede banget. dan semakin gede pelayanannya pasti makin oke. Mereka juga sangat dihormati, bahkan mungkin ditakutin kali ya? pokoknya gitu. hahaha

Selanjutnya, gua masih nunggu juga dan karena nomor tidak kunjung bergerak dari nomor 38, gua akhirnya mutusin buat naek ke lantai dua, dan setor uang dulu di teller. Di lantai dua, guapun ngeliat orang-orang antri, dan guapun ikut antri. Kira-kira 15 menit berlalu, akhirnya sampailah pada giliran gua, dan terjadilah percakapan yang kira-kira kaya gini.

T : Teller
M: Michael (Gua)

T: Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?
M: Siang, saya mau nyetor mbak. (Ngasih lembar bukti setoran sama duit setorannya)
T : Iya pak, dengan pak Michael sendiri?
M : Iya mbak.
T : Oke saya proses dulu ya pak.

Nah si mbak-mbak teller itu pun nge-proses setoran gw.  Sementara itu, di pikiran gua terlintas buat nanya, berapa si saldo yang harus dimiliki seseorang kalo mau jadi prioritas. Akhirnya gua-pun mutusin buat nanya.

M : Mbak, kalo nasabah prioritas itu saldonya harus berapa ya?
T   : Ahh, ehh kalo nasabah prioritas itu rata-rata 500 juta pak (agak heran)
M : Ohh 500 juta ya?
T  : Iya rata-rata loh ya pak. (Masih heran dan kaya bingung)
M : Iya minimal kan mbak?
T : Iya pak. Ini pak uangnya sudah masuk ya, ada lagi yang bisa saya bantu?
M : Nggak mbak, terima kasih.
T : Terima kasih.

Kira-kira gitu. Nah selanjutnya gua-pun kembali ke lantai satu, dan kembali nunggu. Gua ngeliat nomor antrian itu tetep masih di nomor 38. Tapi akhirnya setelah nunggu cukup lama, nomor itu bergerak dan kira-kira setelah 1 jam-an akhirnya giliran gua tiba. Saat giliran ini, gua cuma dijelasin biasa aja prosedurnya, dan lain-lain. Setelah semua urusan gua selesai, gua-pun meninggalkan bank tersebut dan kembali ke rumah. Demikianlah cerita ini.🙂

Lalu apakah yang bisa kita sama-sama dipelajari dari kejadian hari ini?

1. Jadilah terinspirasi, bukan merasa kecil

Banyak orang selalu minder, atau grogi ketika mereka melihat orang yang lebih hebat dari mereka. Misalnya, ketika mereka melihat nasabah prioritas di bank, banyak yang berpikir “ahh gua mah ga bisa kaya gitu, itu cuma orang-orang tertentu aja” atau “Ahh curang nih banknya, apa-apaan sih?”. Selain itu, ada juga orang yang merasa grogi dan merasakan tekanan dari mereka yang lebih baik.

Kenyataannya, kita tidak perlu merasa seperti itu, melainkan ada baiknya bila kita menjadi lebih terinspirasi saat melihat orang yang lebih hebat dari kita. Terinspirasi untuk menjadi seperti mereka, atau bahkan lebih hebat dari mereka. Gua pribadi merasa sangat terinspirasi,  jadi gua nanya ke teller berapa jumlah saldo yang harus dimilkiki seorang nasabah prioritas.

2. Jangan pernah memandang orang sebelah mata

Satu hal yang gua liat hari ini, teller yang ngelayanin gua sepertinya memandang gua sebelah mata. Mungkin dia sampe heran dan bingung sama pertanyaan gua, gara-gara dia mikir buat apaan sih ni orang nanya-nanya gitu. Mungkin kedengerannya negatif banget, tapi yang gua tangkep itu, dia kayak nganggep gua ga bisa jadi prioritas juga. Tapi ya, gua yakin kalo masa depan itu masih sangat bisa dirubah, jadi ya kita liat aja nanti ke depannya.

Gua sering banget ngeliat orang-orang yang dipandang sebelah mata itu sukses. Ada anak umur 17 taon yang memiliki online shop dengan omset puluhan juta rupiah. Dan pada awalnya, dia juga dipandang sebelah mata sama temen-temennya. Jadi ya, jangan pernah kita memandang orang lain sebelah mata ya?

3.  Lakukan yang terbaik untuk semua orang, bukan ke orang tertentu

Nah pesan ini gua dapet ketika gua ngeliat pelayanan orang-orang bank yang pada beda ke nasabah prioritas. Gua ngerti kalo mereka emang spesial, dan ga ada salahnya mereka dilayanin lebih baik dari nasabah biasa. Yang jadi masalah itu, beberapa orang itu keliatannya acuh tak acuh dan sok tau di depan nasabah biasa, cuma beberapa loh ya. Menurut gua, seharusnya mereka bisa ngelayanin semua orang dengan baik, walaupun jelas memang prioritas harus lebih di spesialin hehe

Kenapa kita harus berbuat baik ke semua orang? soalnya hidup ini selalu mengembalikan apa yang kita beri secara langsung atau tidak. Temen-temen pernah denger tabur-tuai? nah ketika kita melakukan hal baik, otomatis hal-hal yang baik akan kembali kepada kita. Jadi temen-temen semua disini maunya hal yang baik kan? Maka, berbuatlah baik dari sekarang.

Ya itulah pelajaran yang bisa dipetik. Overall, gua janji sama diri gw sendiri kalo suatu saat, maksimal 5 tahun lagi, gw bakal balik ke bank itu sebagai nasabah prioritas juga🙂

Oke demikian sharing dari saya hari ini. Semoga bermanfaat

See you at the top!

Follow me @Michael_Alexx

Wikipedia: D is the fourth letter in the basic modern Latin alphabet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s