Rahasia Kredit Konsumtif di Indonesia

Mata Pelajaran : Bank dan Lembaga Keuangan 2
Dosen : Dr. Prihantoro

Nama Anggota Kelompok
Christian Ramos K. (21210578)
Michael Alexander (24210380)
Sidik Nur Fajri (29210760)

Kelas : SMAK-04

Pengertian Kredit Konsumtif

Kredit konsumtif adalah salah satu jasa yang diberikan bank dalam bentuk kredit yang ditujukan untuk membiayai kebutuhan nasabah terutama yang berhubungan dengan kegiatan konsumsi, misalnya: pembelian motor, mobil dan barang elektronik yang bertujuan untuk pemakaian pribadi. Kredit konsumtif memiliki bunga yang relatif tinggi dibanding kredit investasi dan modal kerja.

 Mengapa Kredit Konsumtif Memiliki Tingkat Bunga yang Lebih Tinggi?

Beberapa faktor yang membuat suku bunga ini tinggi adalah:

  • Permintaan yang terus meningkat dimasyarakat
  • Kredit yang bukan digunakan untuk investasi maupun modal kerja karena diperkirakan tingkat pengembaliannya yang rendah
  • Persaingan antar bank pemberi kredit.
  • Inflasi

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia januari 2012 yang dikeluarkan BI Saat ini tingkat suku bunga kredit pada bank umum berada pada kisaran 13% persen sedangkan ketentuan Bank Indonesia soal bunga kredit atau BI Rate berada pada angka 6% dan jumlah kredit konsumtif yang beredar saat ini sejumlah 660.247 miliar rupiah  atau sekitar 30% dari jumlah kredit yang beredar di masyarakat, bahkan kredit konsumtif memiliki jumlah yang lebih besar dibanding kredit investasi. Jumlah kredit konsumtif yang terbesar saat ini berada di Jakarta yaitu sebesar 231.207 miliar rupiah atau hampir tetengah dari jumlah kredit konsumtif seluruh indonesia.

Dalam publikasinya BI menyatakan bahwa akan terjadi penurunan tingkat suku bunga kredit baik rupiah maupun valas.

BI melihat, suku bunga kredit modal kerja di 2012 yang sebelumnya diperkirakan sebesar 13,38% turun menjadi 13,06%. Untuk suku bunga kredit investasi turun dari 13,31% menjadi 12,94%.

“Suku bunga kredit konsumsi dari 16,22% menjadi 15,22%,” terang BI.

Suku bunga konsumtif  terdiri dari beberapa jenis seperti kartu kredit, car loan, motor loan, kpr dan multiguna.Khusus kredit konsumsi berdasarkan jenisnya, bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) tercatat menurun menjadi sebesar 11,90% sedangkan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) 13,32% dan Kredit multiguna mencapai 14,38%.

“Sebaliknya rata-rata suku bunga kartu kredit naik menjadi 37,83% dan suku bunga kredit tanpa agunan sebesar 22,69%,” tutup BI.

Dan berikut adalah tingkat suku bunga kredit konsumtif berdasarkan kelompok bank selama 10 tahun terakhir.


Dan berikut adalah chart line berdasarkan data dari table diatas

Dan berikut adalah rata-rata tingkat suku bunga kredit konsumtif 2002-2012 dengan menggunakan chart pie:

Dan berdasarkan data-data diatas mengenai tingkat suku bunga kredit konsumtif 2002-2012 maka didapat data kesimpulan sebagai berikut:


*Tambahan: tingkat suku bunga kredit konsumtif 2002-2012 terendah pada bank BPD tahun 2010 = 12,62. sedangkan, tingkat suku bunga kredit konsumtif 2002-2012 tertinggi pada bank BJV tahun 2007 = 36,24

Saat ini bunga kredit konsumsi yang paling tinggi adalah pada kartu kredit. Seperti dijelaskan diatas bunga kartu kredit mencapai diatas 30 persen. Kartu kreditlah yang memberikan kontribusi besar pada bunga kredit konsumtif. Kelompok yang memiliki bunga kredit konsumsi terbesar adalah kelompok Bank Umun Joint Venture.

Dari tabel diatas juga terlihat kesenjangan antar bank joint venture dengan kelompok bank umum lain. kelompok bank umum hanya menetapkan bunga sebesar 12-17 persen, tetapi bank joint venture memiliki bunga kredit diatas 30 persen. Namun ini telah terjadi penurunan dibanding 9 tahun terakhir.

Pemerintah sudah menetapkan BI Rate pada 6 persen namun bank memberikan kredit masih jauh diatas BI Rate terutama bank joint venture. Salah satu faktornya adalah biaya yang dikeluarkan cukup besar dalam memberikan kredit sehingga bila bank menetapkan bunga kredit sesuai BI Rate maka mereka akan memperoleh laba yang kecil. Terutama kelompok bank joint venture yang terdiri dari bank yang luar negri. Bank ini juga kurang diminati oleh nasabah, sehingga uang yang tersedia untuk kredit terbatas dan biaya kredit juga besar sehingga bank-bank joint venture menetapkan suku bunga yang tinggi.

Pengaruh Inflasi terhadap Suku Bunga Kredit

Inflasi adalah suatu keadaan yang terjadi ketika harga-harga meningkat secara umum dan terus-menerus, dan merupakan salah satu faktor yang memepengaruhi tingginya tingkat suku bunga. Apabila inflasi tinggi maka suku bunga kredit pun akan naik, mengapa? Ini disebabkan apabila inflasi naik tidak terkandali maka akan mempengaruhi nilai atau daya beli dari uang. Bagi debitur inflasi seperti ini tidaklah berpengaruh, tetapi bagi kreditur ini sangat berpengaruh karena uang pengembalian dari kreditur nilainya telah turun. Sehingga untuk mengantisipasinya para kreditur akan menaikan tingkat bunga untuk mengcover laju inflasi agar apabila terjadi kerugian, kerugian itu tidak terlalu besar.

Hal tersebut juga menyebabkan minat investasi masyarakat akan menurun. Dengan turunnya minat investasi, masyarakat yang mengajukan KPR dan KPKB ke bank juga akan berkurang, begitu juga dengan kartu kredit karena tingkat bunga yang tinggi.

Berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan BPS bulan Mei inflasi tahun ini hingga bulan april tercatat sebesar 1,09 persen dan tercatat sejak april 2011 hingga 2012 terjadi inflasi sebesar 4,50 persen . dari total inflasi yang terjadi bulan april yaitu sebesar 0,21 persen dan sektor jasa keuangan menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen. Namun kenaikan inflasi ini sepertinya tidak berpengaruh besar karena beberapa bank sudah mulai menurunkan tingkat buga kredit mereka bahkan beberapa bank menurunkan bunga kredit mereke hingga dibawah 10 persen. Namun untuk kartu kredit dan kredit tanpa agunan tingkat bunga mereka akan naik, mengingat resiko yang akan mereka terima juga semakin besar.

Jadi, dari apa yang dijabarkan diatas, kita dengan jelas dapat menyimpulkan bahwa inflasi jelas dapat memberikan dampak terhadap kredit konsumsi.

Bahaya Kredit Konsumtif

Kredit konsumen memiliki tingkat resiko dan biaya yang tinggi. Pertama tingginya resiko kredit konsumen sangat berhubungan dengan kondisi keuangan, ekonomi seseorang atau keluarga. Sehingga jika nasabah terkena penyakit yang parah, kehilangan pekerjaan atau mengalami tragedi atau kecelakaan, maka akan mempengaruhi pembayaran kredit mereka. Kedua, biaya yang tinggi dari kredit konsumen terkait dengan nominal yang kecil dan jumlah yang banyak, sehingga meningkatkan biaya transaksi yang tinggi bagi bank.

Dalam konteks ini, maka manajemen asset yang tepat perlu untuk dilakukan oleh manajemen bank, dengan tidak mendominasi peneterasi kredit di sisi kredit konsumsi. Diferensiasi dan antisipasi resiko tetap harus diperhitungkan untuk dapat meningkatkan keuntungan dan mengendalikan resiko yang tidak membahayakan bagi bank.

Bagi Nasabah, penggunaan kartu kredit dan pengajuan kredit konsumen tetap harus dipertimbangkan secara matang kemanfaatan dan biayanya. Sehingga keputusan tersebut tidak merugikan posisi keuangannya dimasa depan.

Sumber

http://vibiznews.com/news/banking_insurance/2012/04/23/survei-bi-kenaikkan-bunga-kartu-kredit-akan-sentuh-3783-di-2012/10

http://www.bi.go.id/web/id/

http://www.bps.go.id/

http://diassatria.lecture.ub.ac.id/2012/01/artikel-bahaya-kartu-kredit-dan-kredit-konsumtif/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s