Cerita Seorang Ayah

Ketika kita berusia 3 tahun, kita meminta sebuah mainan kepada mama dan papa. Papa dengan tegas melarang kita dan mungkin dengan agak keras, tetapi tahukah winners bahwa sesungguhnya papa ingin mengabulkannya? Hanya saja papa melihat bahwa kita belum siap untuk mendapatkannya.

Ketika kita berusia 4 tahun, kita berbuat kesalahan, misalnya memecahkan kaca. Papa mungkin akan marah, sedangkan mama menegur kita dengan lembut. Saat itu, kita mungkin berpikir bahwa papa jahat, papa seharusnya bisa seperti mama. Tetapi tahukah winners bahwa sesungguhnya papa sangat mengkhawatirkan kita? Papa tidak mau kita terluka sedikitpun oleh pecahan kaca tersebut. Papa menegur kita dengan keras agar kita ingat dan lebih berhati-hati dikemudian hari.

Ketika kita berusia 6 tahun, atau masuk sekolah dasar pertama kali, sebagian dari kita mungkin hanya diantar mama dan merasa marah karena papa tidak bisa mengantar, tetapi tahukah winners bahwa papa sangat ingin menggandeng tangan kita dan mengantar kita menuju kelas? ia membiarkan mama yang mengantar kita karena papa harus kerja keras banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Papa banting tulang tanpa kenal waktu dan lelah, papa juga hanya mendengar dengan sabar tanpa menyalahkan persepsi kita.

Kini waktu terus berlalu, kita masuk ke SMP, saat kita masuk ke SMP kita mungkin sudah mengenal lingkungan yang semakin luas. Seringkali papa mengatur-atur kita dan kita tidak merasa nyaman dengannya. Tapi tahukah winners bahwa papa membuat peraturan demi diri kita? Saatini, banyak anak SMP yang telah merokok, dan pergaulannya tidak bisa dibilang bagus. Papa tidak ingin kita menjadi salah satu bagiannya, maka papa membuat peraturan seperti itu. Mungkin saat itu kita bercerita dan berkeluh kesah kepada mama, dan papa mungkin mendengarnya dan merasa sangat sakit. Tetapi papa hanya diam dan tetap memikirkan kebaikan kita

Waktu semakin berlalu kita kini semakin dewasa. Entah duduk di bangku SMA ataupun kuliah, kita semakin sulit diatur. Seringkali kita menghabiskan waktu hingga larut bersama teman-teman kita atau pacar kita. Saat itu, papa mungkin bertanya dengan tegas kepada kita dan mungkin kita langsung mengurung diri di kamar. Kemudian, mama mengetuk pintu kamar kita dan menanyakan keadaan kita. Tahukan winners, bahwa papalah yang menyuruh mama mengetuk pintu kamar kita? Papa tidak mau anak kesayangannya terluka, tetapi ia juga harus memertahankan ketegasannya di depan mata kita. Ia tidak mau terlihat lemah di depan kita, padahal papa hanyalah manusia biasa, seperti kita.

Akhirnya kita lulus, kita di wisuda. Saat melihat kita berada diatas panggung, papalah orang yang paling bangga. Papa mungkin berteriak didalam hatinya, bahkan mungkin berkata kepada orang-orang setelah acara selesai bahwa anak nya telah lulus. Papa begitu senang, tetapi lagi-lagi ia tidak mau memperlihatkan perasaanya didepan kita sebab ia ingin agar kita tidak cepat berpuas diri, agar kita tidak menjadi sombong,dan terus maju melewati tantanga-tantangan di kehidupan ini.

Lalu, kita Menikah. Saat pernikahan tahukah winners bahwa papa menangis, ia mungkin pergi kebelakang dan menangis karena melihat anaknya telah menjadi besar dan saatnya papa melepas anaknya. Papa kini sangatlah bahagia karena kita mendapatkan hal yang kita inginkan. Kali ini, ia menunjukkan kebahagiaannya agar kita tidak merasa sedih ataupun bersalah ketika kita meninggalkannya. Sesungguhnya papa ingin melewatkan waktu lebih banyak lagi dengan kita, tetapi ia sadar bahwa kebahagiaan anaknya adalah yang terpenting.

Terakhir, kita telah menjadi orang yang sangatlah bahagia dan luar biasa sukses. Saat ini, papa telah tersenyum hangat dari belakang kita dan berbisik dalam hatinya bahwa tugasnya di dunia ini telah selesai. Kemudian, usia mulai memanggil papa. Papa mulai terlihat lelah, dan matanya mulai kehilangan sinarnya. Papa terus menyimpan hal-hal yang paling ia inginkan dan menahannya agar kita tidak mengetahuinya. Kita mungkin terus memandang papa secara subjektif sampai akhirnya kini, waktu papapun tiba. Papa pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, sambil tersenyum.

dan disaat-saat terakhir itu seandainya kita bisa membaca isi hati papa dan merubahnya menjadi sebuah surat. Mungkin kita akan menemukan sebuah surat yang terlihat pernah basah, dan berisi

terima kasih anakku, kamu mungkin berpikir papa jahat selama ini.

ingatkah kamu ketika papa memarahimu? Papa minta maaf, papa tidak pernah ingin menyakiti hatimu, yang papa inginkan adalah kebaikan untuk kamu. Papa senang saat ini melihat kamu bahagia, papa harap kamu bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menjadi teladan. Papa bangga memiliki anak sepertimu, kamu adalah sebuah permata yang sangat berharga bagi papa.

sejujurnya papa ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu, tetapi kini sudah waktunya papa pergi, sekali lagi papa minta maaf. Papa janji akan mengawasimu dari sana. Tetaplah kuat anakku

 

Dengan penuh cinta

Papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s