Filosofi Kue

Seorang anak datang kepada ibunya dan mengatakan bahwa hidup ini tidak adil. Mendengar hal tersebut, si Ibu hanya diam dan tersenyum.

Karena mengira ibunya tak mendengar, anak ini kembali berkata, “bu, hidup ini sulit sekali”. Sekali lagi si Ibu hanya diam dan tersenyum, kemudian mengajak si anak ke dapur.
Di dapur, si Ibu mengeluarkan bahan-bahan pembuat kue, seperti baking soda, terigu, telur, dan lain-lain.

Setelah semua bahan terkumpul, si Ibu menyuruh si anak memakannya. Spontan, si anakpun langsung protes, dan berkata “ini kan mentah ma, tidak mungkin aku memakannya. Tidak enak”. “Betul anakku, jika kita memakan kue dari bahan per bahan tidak akan enak, sama seperti kehidupan”

Teman-teman yang luar biasa, ilustrasi diatas menggambarkan secara tepat bahwa seringkali, kita memandang hidup bahan per bahan, bukan secara keseluruhan. Saat sedih, seringkali kita terlalu fokus terhadap kesedihan kecil tersebut hingga melupakan kebahagiaan-kebahagiaan besar yang Tuhan berikan untuk kita.

Memang sangat manusiawi jika kita merasakan sedih, namun milikilah selalu hati yang bersyukur. Dengan begitu, kehidupan kita dan orang-orang yang kita sayangi akan lebih banyak dipenuhi kebahagiaan.

“Pandanglah hidup seluruhnya, bukan sepotong-sepotong”

Your Friend,

Michael

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s